Wisata Alam Goa Kreo dan Waduk Jatibarang, Semarang

Goa Kreo dilihat dari dekat


Goa Kreo merupakan sebuah goa bentukan alam yang terletak di Dukuh Talun Kacang, Desa Kandri, Kecamatan Gunungpati, Semarang. Menurut legenda, goa Kreo adalah tempat sunan Kalijaga melakukan semedi ketika mencari kayu jati untuk membangun masjid Agung Demak.
Letaknya yang tidak terlalu jauh dari pusat kota Semarang menjadikan Goa Kreo selalu ramai pengunjung. Apalagi pada waktu akhir pekan dan hari libur. Pengunjung semakin memadati tempat wisata Goa Kreo. Bagi anda para traveller yang berniat bertravelling ria, tidak ada salahnya untuk mencoba tempat wisata yang satu ini.

Plang masuk menuju Goa Kreo


Akses menuju Goa Kreo tidaklah sulit. Anda bisa mengambil start dari depan gapura Universitas Negeri Semarang kearah utara kemudian berbelok kearah kiri sebelum jalan Tol Tembalang. Anda ikutu terus jalan tersebut hingga menemui jalan yang agak lebar. Jalan tersebut merupakan jalan Gunung pati. Kemudian anda akan menemui gapura yang bertuliskan Selamat datang di Kawasan wisata Goa Kreo. Selanjutnya anda mengikuti jalan tersebut sampai lokasi wisata Goa Kreo.

Waduk Jatibarang dilihat dari Goa Kreo


Disekeliling tempat wisata Goa Kreo terdapat sebuah waduk yang bernama waduk Jatibarang. Keindahan yang ditawarkan Goa Kreo memang sangat bervariatif, mulai dari Panorama waduk Jatibarang, hijaunya pepohonan, dan Goa Kreo itu sendiri. Sedangkan untuk satwa yang ada diarea wisata Goa Kreo adalah monyet ekor panjang. Anda dapat mengambil gambar sesuka hati untuk kenang-kenangan. Namun, tetap memperhatikan keselamatan anda.

Gunawan Jambi 😅 penghuni Goa Kreo



Sekian artikel yang berjudul Wisata Alam Goa Kreo dan Waduk Jatibarang, Semarang. Semoga bermanfaat dan selamat berpetualang. []H2S[]

  • Catatan : Bawalah makanan kecil seperti kacang tanah untuk memberi makan monyet. Hal itu dilakukan agar anda terhindar dari serangan monyet yang hendak merebut makanan anda.
  • Jangan bersandar pada dinding jembatan menuju arah Goa Kreo.
  • Gunakan fasilitas yang adda secara baik dan benar.

Serayu Rafting Banjarnegara



Pecinta Kaldera - Sebelum kita membahas tentang Serayu Rafting Banjarnegara, ada baiknya kita terlebih dahulu mengetahui apa itu Arung jeram. Arung jeram adalah salah satu kegiatan outdoor atau olahraga air yang cukup ekstrim dan memacu adrenalin. Sebenarnya masih banyak definisi lain yang agak berbeda. Tetapi, maksud dan artinya kurang lebih seperti definisi diatas.

Kita ketahui bersama diposting saya sebelumnya. Bahwa Sungai serayu adalah sungai yang terletak di propinsi Jawa tengah dan mengalir sepanjang kurang lebih 30 KM. Namun, dikesempatan kali ini Pecinta Kaldera tidak akan membahas sungai Serayu lagi. Tetapi, kali ini akan membahas tentang kegiatan outdoor yang ada dialiran sungai Serayu, tepatnya Serayu Rafting Banjarnegara.

Serayu rafting Banjarnegara memiliki basecame atau home base di Blimbing. Serayu rafting Banjarnegara juga menyediakan beberapa paket arung jeram mulai dari basecame Blimbing hingga basecame taman wisata sekaligus kebun binatang Seruling Mas. Basecame-basecame yang dilalui antara lain : Blimbing, Tunggoro, Randegan, Bojanegara, Singomerto, dan terahir Seruling Mas.

Gambar : Salah satu jeram Serayu
Berikut ini rincian basecame, jarak tempuh, waktu yang dibutuhkan, dan tentunya budget yang harus disediakan oleh sahabat backpacker Pecinta Kaldera.
1. Start Blimbing finish Singomerto.

Dari Blimbing sampai Singomerto memerlukan waktu sekitar 5,5 jam perjalanan. Dengan jarak tempuh dan budget/biaya 26 KM/ Rp. 300.000. Harga tersebut sepadan dengan sensasi dan kepuasan setelah melakukan rafting.

2. Start Tunggoro dan finish Singomerto.

Dari Tunggoro menuju Singomerto memiliki jarak tempuh 18 KM. Waktu yang dibutuhkan hanya 4 jam perjalanan. Dengan jarak tempuh dan waktu yang dibutuhkan semakin kecil, semakin kecil pula budget yang harus dikeluarkan kawan-kawan. Yaitu sebesar Rp. 225.000.

3. Start Randegan dan finish Singomerto.

Dari Randegan sampai singomerto memakan waktu 3,5 jam, jarak tempuh 16 KM, dan budget yang harus dikeluarkan adalah Rp. 200.000.

4. Start Bojanegara finish Singomerto.

Waktu yang dibutuhkan untuk menempuh jarak 14 KM adalah 3 jam. Selanjutnya membayar seharga Rp. 190.000.

5. Start Singomerto dan finish Taman Wisata Seruling Mas.

Jarak tempuh Singomerto sampai Seruling Mas adalah yang terdekat diantara kelima opsi, yaitu 10 KM. Waktu yang dibutuhkan relatif singkat, yaitu 2,5 jam. Sedangkan budget yang harus dikeluarkan sebesar Rp. 185.000.
Gambar : Aliran sungai Serayu

Selain opsi diatas, Kawan backpacker Pecinta Kaldera juga bisa menggunakan fasilitas yang ada, antara lain:
  • Welcome drink/ minuman selamat datang.
  • Air mineral.
  • Snack.
  • Makan.
  • Refreshment kelapa muda disela kegiatann rafting berlangsung.
  • Transportasi lokal.
  • Rafting equipment standar internasional : pelampung, helm, dayung, pemandu, instruktur, tim rescue, dan P3K.
  • Asuransi pada saat rafting.
  • Sertifikat Rafting.


Gambar : Perayaan Usai dan sebelum Rafting
Untuk lebih lengkapnya sahabat PECINTA KALDERA bisa mencari info lengkapnya disini. Sekian kawan Pecinta Kaldera. Selamat mencoba sensasi Serayu Rafting Banjarnegara dan tetap jaga alam ini dari kerusakan. Sayangi diri kita, orang sekitar, dan tentunya alam beserta isinya. Salam rimba. []H2S[]

Sungai Serayu Jawa Tengah

Gambar : Sungai Serayu

Pecinta Kaldera - Sungai Serayu adalah sungai di Indonesia yang terletak di propinsi Jawa Tengah. Sungai ini terletak dikoordinat GPS -7.525873,109.174519. Serayu berasal dari mata air Bima Lukar yang terletak di kabupaten Wonosobo. Sungai ini mengalir memanjang dari kabupaten Wonosobo hingga kabupaten Cilacap. Aliran sungai Serayu melewati beberapa kabupaten. Kabupaten yang dilalui sungai ini yaitu : kabupaten Wonosobo, Banjarnegara, Banyumas, Purbalingga, Kebumen dan terahir bermuara di kabupaten Cilacap.

Panjang sungai serayu kurang lebih 30 KM dari hulu hingga kehilir, dan memiliki lebar sekitar 12 M-25 M. Sungai ini memiliki anak sungai yang cukup besar, yaitu sungai Klawing yang berhulu dimata air gunung Slamet, Jawa Tengah.

Disepanjang aliran sungai Serayu terdapat banyak keistimewaan. Diantaranya adalah wisata air rafting bagi para pemacu adrenalin. Wisata rafting yang terkenal adalah wisata rafting yang terletak dikecamatan Sigaluh, Banjarnegara. Serayu rafting Banjarnegara menyuguhkan pengalaman rafting yang takkan terlupakan.

Gambar : Rafting di Sungai Serayu

Selain itu disepanjang aliran sungai terdapat beberapa keistimewaan alam seperti persawahan, perkebunan, dan hutan. Tak jarang acara-acara adat juga diadakan disungai serayu seperti grebeg suro dan yang terbaru adalah acara parak (menangkap ikan bersama di aliran sungai Serayu).

Gambar : Parak di Sungai Serayu
Demikian artikel yang dapat Pecinta Kaldera bagikan kepada sahabat semua. Selamat berwisata dan tetap menjaga alam kita. Salam rimba.  []H2S[]

Taman Rekreasi Margasatwa Serulingmas

Berkas:Serulingmas.jpg

Taman Rekreasi Margasatwa Serulingmas (TRMS) pada mulanya adalah hutan kota yang dihijaukan sejak tahun 1994. Di tengah hutan ada makam Ki Ageng Selomanik, pengikut Pangeran Diponegoro yang terdesak ke barat dan menetap di Banjarnegara.
Taman itu diresmikan Jenderal TNI (Purn) Susilo Sudarman(alm), ketika masih menjabat Ketua Paguyuban Seruan Eling Banyumas (Serulingmas), pada 21 Agustus 1997. Sekaligus beliau juga menyumbangkan Harimau yang sekarang telah berkembang biak. Tempat rekreasi ini berada 1 km dari pusat kota Banjarnegara ke arah barat dan bisa dicapai dengan angkutan kota, ojek sepeda motor, atau dokar.
Dari taman itu bisa dilihat pemandangan menawan lembah Sungai Serayu, yang bertemu Sungai Merawu dan Palet di sisi barat. Tak jauh dari sana ada Bendungan Banjarcahyana, yang dibangun pemerintah Hindia Belanda tahun 1939. Bendungan berkonstruksi sifon itu menembus ke bawah Kali Merawu dan sampai kini masih berfungsi sebagai irigasi teknis.
TRMS dibangun pada masa Bupati (saat itu) Drs Nurachmad. Itulah satu-satunya taman margasatwa di Jateng bagian selatan. Di sana hidup lebih dari 36 jenis hewan memamah biak, burung, dan binatang melata serta tanaman langka. Dua ekor gajah sumatera, alumnus sekolah gajah Way Kambas, Lampung yang sudah beranak dua ekor. Selain itu terdapat pula harimau benggala, singa afrika, dan seekor beruang.

Curug Sirawe






Pecinta Kaldera - Curug Sirawe berada di dataran tinggi Dieng dengan memiliki ketinggian sekitar 80m. Air yang jatuh dari curug ini menimpa bebatuan dan membentuk kolam kecil di bawahnya.

Mata air berasal dari wilayah Banjarnegara, tepatnya dusun Bitingan, desa Kepakisan, Kecamatan Batur
Air yang mengalir manjadi curug sudah masuk wilayah Batang, tepatnya dusun Sigemplong, desa Pranten, kecamatan Bawang

Karena proses pemikiran tersebut curug Sirawe jatuh ke pangkuan Batang. Tetapi pihak Batang tidak serta merta membangun sarana dan prasarana yang menunjang aktivitas pariwisata di tempat ini, apalagi mempromosikanya. Curug ini dibiarkan saja seperti aslinya. Mungkin Batang sudah berpikir antara anggaran yang dikeluarkan tidak sebanding dengan hasil yang akan didapat. Tetapi entah nanti jika Batang berubah pikiran :). Jika dipikir, untuk membangun proyek besar ini sebagai obyek wisata yang potensial di kabupaten Batang, maka Batang harus memperbaiki jalan antara Bawang – Bintoro – Sigemplong, atau jalan antara Bawang – Pranten – Sigemplong dan jembatan di selatan desa Pranten yang entah bagaimana kabarnya :)
Review nya bisa dilihat disini : Desa Pranten

Berbicara akses ke curug Sirawe, ada 2 jalur yang bisa dilewati. Pertama jalur Pawuhan (Geodipa) – Siglagah – Sigemplong. Dari Pawuhan dihadapkan jalanan aspal dan cor beton yang mengelupas. Sesampai Sigemplong kendaraan berhenti disini, dilanjut dengan jalan kaki ke atas desa, ke lereng gunung Sipandu. Kemudian menyusuri jalan setapak alternatif penghubung desa Sigemplong dan desa Bitingan. Jalur ini sulit dan jauh. Akan lebih sulit dan berbahaya di musim hujan.
Jalur kedua bisa lewat Kepakisan – Kawah Sileri - Bitingan. Jalur ini lebih dekat dari jalur Sigemplong. Jalanan aspal mengelupas tetap bisa dijumpai dari pertigaan kawah Sileri sampai desa Bitingan. Sampai desa Bitingan semua kendaraan berhenti, menuju curug dilanjut dengan jalan kaki.
Kedua jalur tersebut sama sulitnya ketika memasuki turunan curug Sirawe, terlebih jika musim hujan.

Mengenai hal lain, curug ini gabungan dari air panas dan air dingin serta 2 air terjun yang berjejer. Air panas berasal dari proses geothermal di pegunungan Dieng, dan air dingin dari sungai biasa. Yang saya lihat, disekitar curug masih terjaga hutan heterogen khas dengan pohon pohon besarnya.Setelah dari sini bisa melanjutkan perjalanan ke arah barat ke Telaga Merdada. Sebelumnya sempatkan pula mampir di Kawah Sileri yang baru-baru ini meletus. Tenang, letusan ini tidak tampak menimbulkan kerusakan yang berarti. Telaga Merdada merupakan telaga terluas di kawasan dengan luas 25 ha dan kedalaman 2-10 meter. Telaga ini juga masih berda di kawasan kabupaten banjarnegara. Telaga Merdada indah dan bersih, akan tampak beberapa orang yang memancing disana.

Lokasi

Terletak di Dusun Bitingan, Desa Kepakisan, Kecamatran Batur, Kabupaten Banjarnegara, Propinsi Jawa Tengah.

Aksesbilitas
Perjalanan menuju curug dapat ditempuh dengan motor dan dilanjutkan dengan berjalan kaki. Jalan menuju curug belum terjamah aspal sehingga perjalanan akan perlu perjuangan. Begitu pula saat harus berjalan kaki menuju curug. Jalan setapak di dalam hutan yang masih rimbun cukup menyulitkan namun tetap bisa dilalui. Setelah hampir setengah jam berjalan akan mulai terdengar suara air mengalir deras

Kami pun segera berkemas. Sebelum berangkat, kami berembuk memilih jalur yang bakal ditempuh. Pertama, menggunakan jip dari Dukuh Pawuhan menuju Dukuh Bitingan, Desa Kepakisan, Batur Banjarnegara. Dari tempat itu, perjalanan diteruskan dengan berjalan kaki menuju air terjun, lalu ke hutan perawan, kemudian Dukuh Sigemplong (Kabupaten Batang) dan berakhir di Kecamatan Bawang, Batang.

Jalur kedua, langsung berjalan kaki dari Dukuh Pawuhan menuju Dukuh Rejosari-Dukuh Sigemplong (keduanya masuk wilayah Kabupaten Batang), Air Terjun, Hutan Perawan, dan berakhir di Kecamatan Bawang.

Saat itu kami putuskan untuk memilih jalur pertama. Pagi itu jip yang kami tumpangi meluncur pelan, menyusuri jalan utama menuju Desa Kepakisan. Jalur yang kami pilih memang tidak dilewati angkutan umum. Dari pertigaan Dukuh Simpangan, Karangtengah, angkutan yang tersedia menuju Kecamatan Batur via Desa Kepakisan-Pekasiran hanya berupa mobil sayur dan ojek.

Semula jalan yang kami lalui mulus-mulus saja. Tantangannya juga tidak seberapa. Paling hanya ada tanjakan dan turunan tajam. Tapi benar, setelah itu medannya berat. Ketika Mulai berbelok di jalur menuju ke Dukuh Bitingan, jalan sudah tidak beraspal lagi. Jip yang mengantar kami juga harus merambat lebih pelan dan berhati-hati ketika menyusuri jalan berbatu menuju hutan perawan.

Di tengah perjalanan, kami berhenti sejenak untuk menyaksikan Kawah Sileri. Kawah dengan areal yang cukup luas itu sudah masuk kawasan Dukuh Bitingan. Kawah disebut Sileri karena airnya berwarna putih, seperti air cucian beras (leri). Kepulan asap panas bumi yang muncul dari dalam kawah terlihat begitu menawan. Di sana juga tersedia semacam shelter untuk wisatawan.

Setelah puas, kami segera melanjutkan perjalanan. Kanan-kiri jalur masih berupa lahan kentang. Belum juga terlihat tanda-tanda ada hutan perawan di kawasan tersebut.

Beberapa saat kemudian, sampailah kami di Dusun Bitingan. Dari tempat itu, jip yang kami gunakan, tidak bisa meneruskan perjalanan dan harus kami titipkan kepada warga setempat. Perjalanan menuju hutan perawan kami lanjutkan dengan berjalan kaki.

Melawati jalan setapak di tengah lahan kentang, pandangan kami masih mencari di mana jalur menuju hutan perawan tersebut. Memang terlihat dari atas, tiga air terjun ada di kawasan itu. Namun jalur menuju tempat yang dimaksud itu tidak mudah ditemukan.

Ternyata jalurnya memang agak "tersembunyi", tertutup oleh rerimbunan ilalang dan sulur pohon rotan. Jalan juga mulai menurun, mengikuti lereng Gunung Sipandu.

Pemandangan nan menawan hati dan membuat saya berdecak kagum terdapat di balik rerimbunan semak tersebut. Sebuah terowongan alam yang tersusun dari puluhan bahkan ratusan sulur pohon rotan, seakan menjadi gerbang penanda bahwa kami mulai memasuki kawasan hutan.

***

PERJALANAN menuju Curug Sirawe memang bak memasuki dunia baru, kawasan yang jarang dilewati orang dan jauh berbeda dari kondisi Dataran Tinggi Dieng pada umumnya. Yang ada hanya berupa jalan setapak. Bahkan tak jarang, beberapa ranting atau semak menutup jalur yang akan kami lalui.

Pemandangan yang terpampang di sepanjang jalur sungguh membuat kami merasa seperti tidak berada di kawasan Dataran Tinggi Dieng. Kawasan tersebut benar-benar tertutup rapat oleh hutan. Pandangan pun terbatas oleh pohon-pohon besar dan berbagai macam tanaman. Posisinya yang berada di lereng terjal, membuat kawasan itu belum "tersentuh" oleh pertanian intensif.

Beberapa puluh menit kemudian, kami pun hampir mencapai Curug Sirawe. Jalanan semakin terjal, bahkan kami harus benar-benar hati-hati agar tidak terpeleset. Jalur itu memang seperti jalur saat kita turun gunung. Bagi kami, tantangan itulah yang semakin menarik untuk ditelusuri. Terlebih saat air terjun sudah mulai tampak. Gemericik suara curug yang bersumber dari gabungan mata air dingin dan panas itu, membuat hati ingin cepat-cepat tiba di sana.

sumber

Curug Pletuk - Banjarnegara




Curug Pletuk mempunyau ketinggian sekitar 45 m.

Lokasi


Terletak di Desa Pesangkalan, Kecamatan Pagedongan, Kabupaten Banjarnegara, Propinsi Jawa Tengah.

Aksesbilitas

Berjarak sekitar 30 km dari kota Banjarnegara.




sumber

Curug Panaraban


Ganbar : Curug Panaraban

Pecinta Kaldera - Curug Panaraban memiliki ketinggian sekitar 50 meter

Lokasi

Terletak di Kabupaten Banjarnegar, Propinsi Jawa Tengah.

Peta dan Koordinat GPS: -7° 13' 49.00", +109° 46' 15.00" 

Aksesbilitas

Belum tersedia fasilitas yang baik terutama transportasi untuk dapat mengakses ke tempat ini.

sumber

Curug Genting - Banjarnegara






Curug Genting memiliki ketinggian kurang lebih 70 m dengan debit terjunan air yang cukup besar.

Di dekat lokasi Curug Genting juga terdapat Curug Mrawu yang memiliki ketinggian sekitar 50 meter. Curug ini nantinya aliran airnya akan menyatu dan menjadi sumber utama sungai Mrawu salah satu anak Sungai Serayu.


Padahal masih ada objek wisata alam yang sangat indah dan menjanjikan petualangan dan pengalaman yang mengasyikkan. Wisata ini terletak di sebelah selatan desa Batur. Tepatnya di dusun Tiyeng Desa Batur Kecamatan Batur atau sekitar enam kilo meter dari balai desa Batur. Objek wisata ini berupa dua buah air terjun yang elok dan pemandian air panas. Lokasi ini bisa dijangkau dengan mobil atau sepeda motor. Untuk sampai ke dusun Tiyeng anda dapat melalui desa Penusupan masuk melalui dusun Gemblep atau melalui Batur. Dari balai desa anda dapat mencapai lokasi ini dengan melewati dusun Bakalan dan Jelgong. Dari Batur hingga Jelgong jalan sudah diaspal halus. Dari Jelgong ke Tiyeng juga sudang diaspal namun sudah rusak. Adapun dari Penusupan jalannya masih berbatu.
Dari dusun Tiyeng anda harus berjalan kaki untuk sampai ke air terjun Mrawu. Anda akan melewati kebun wortel dan jagung miliki warga. berjalan menyusuri saluran irigasi yang berasal dari atas air terjun hingga setelah anda berjalan sekitar 300 meter anda sudah dapat meihat air terjun Sigenting. Sedangkan air terjun Mrawu masih tersembunyi di sebuah bukit.

Lanjutkan perjalanan anda sampai di belokan saluran air yang dari situ anda dapat melihat dua air terjun sekaligus. Cuma air terjun Mrawu hanya tampah bagian atasnya saja. Itupun sebagian terhalang sebuah pohon. Dari tempat ini ada jalan menurun yang akan menuntun anda mencapai lokasi air terjun Mrawu. Jalan menurun ini cukup terjal dan berujung di saluran irigasi yang berasal dari bawah air terjun Mrawu. Baru saja anda tiba di saluran irigasi ini anda sudah dapat melihat sumber air panas yang mengeluarkan uap air. Sekilas anda akan melihat airnya berwarna kuning atau orange. Tapi sesungguhnya itu adalah warna dari batu yang terbungkus stalaktit



Sebenarnya letak kedua curug ini tidak jauh dari pusat Kecamatan Pejawaran. Berjarak sekitar dua kilometer. Untuk menuju kesana dapat melewati dua jalur. Dari kota Banjarnegara, menuju kecamatan Madukara, Karangkobar dan Pejawaran. Atau dari kota Banjarnegara lewat Singamerta Kecamatan Sigaluh, Madukara, Pagetan dan Pejawaran. Perjalanan dengan kecepatan 60 kilometer perjam memakan waktu sekitar 1,5 jam.

Bahkan desa Giri Tirta tersebut berada di jalur menuju Dieng dari kota Banjarnegara. Yaitu dengan melewati Kecamatan Karangkobar dan Pejawaran. Mungkin karena akses ke lokasi belum memadai curug tersebut jarang dikenal masyarakat. Hanya masyarakat Karangkobar dan Pejawaran yang benar-benar tahu lokasi kedua tempat tersebut.

Untuk menuju lokasi harus jalan kaki dari Dusun terdekat, yaitu Mliken. Sebab harus melewati jalan setapak dan tanggul irigasi. Selain itu juga melintasi perkebunan jagung, wortel maupun kubis, yang menjadi mata pencaharian masyarakat setempat. Perjalanan menuju curug Genting memakan waktu sekitar 15 menit.

Sampai di curug Genting kita dapat melepas lelah sejenak. Segarnya uap air yang timbul dari air terjun setinggi 30 meter lebih akan kita rasakan. Bahkan jika terlalu dekat dengan curug maka uap tersebut akan membuat pakaian menjadi basah. Air yang mengalir di curug ini berasal dari hutan di wilayah pegunungan utara.

Dari curug genting perjalanan dilanjutkan menuju sumber air panas. Butuh waktu sekitar sepuluh menit dengan jalan kaki. Namun untuk menuju sumber air panas ini harus lebih hati-hati, karena melewati pematang yang sempit dan terkadang jalannya licin. Selain itu juga harus melintas jembatan bambu.

Lokasi

Terletak di Dusun Mliken, Desa Giritirta, Kecamatan Pejawaran, Kabupaten Banjarnegara, Propinsi Jawa Tengah.

Peta dan Koordinat GPS: 7°14'45"S 109°47'47"E

Aksesbilitas


Berjarak sekitar 3 kilometer dari pusat kota Kecamatan Pejawaran atau kurang lebih 33 km ke utara dari kota Banjarnegara. Untuk menuju kesana dapat melewati dua jalur. Dari kota Banjarnegara, menuju kecamatan Madukara, Karangkobar dan Pejawaran. Atau dari kota Banjarnegara lewat Singamerta Kecamatan Sigaluh, Madukara, Pagetan dan Pejawaran. Perjalanan dengan kecepatan 60 kilometer perjam memakan waktu sekitar 1,5 jam.

Untuk menuju lokasi curug ini harus jalan kaki melewati jalan setapak dan tanggul irigasi.dari dusun terdekat, yaitu Mliken. Perjalanan menuju Curug Sigenting memakan waktu sekitar 15 menit.

Wisata Lain

Sumber Air Panas Giritirta, letaknya berada diantara dua curug tersebut, sektar 1 km dari Curug Genting dan 100 m dari Curug Mrawu Sumber air panas ini bersuhu sekitar 60 derajat Celcius dengan airnya berwarna kuning kecoklatan yang banyak mengandung belerang. Warga setempat mempercayai sumber air ini mampu mengobati sakit kulit dan rematik.


Untuk menuju air terjun kedua yaitu Sigenting anda harus berputar ke arah belokan terakhir saat anda melihat air terjun mrawu pertama kali kemudian berjalan menuju jembatan bambu dan terus menyusuri jalan setapak melewati kebun wortel dan cabai. terus ke arah barat daya sejauh setengah kilo meter. Hati-hati karena jalan berbatu. Setelah itu anda aan melihat pemandangan yang menakjubkan.

Curug Cileret - Banjarnegara

 

Lokasi

Terletak di Desa Penarusan, Kecamatan Susukan, Kabupaten Banjarnegara, Propinsi Jawa Tengah.

Air Terjun Sikopel - Banjarnegara

http://pecintakaldera.blogspot.com/
Pecinta Kaldera - Air Terjun Sikopel memiliki ketinggian sekitar 70 m dengan kedalaman kolam sekitar 10 m. Keberadaan air terjun ini dekat dengan kawasan wisata dataran tinggi Dieng di sebelah selatan.

Ketika menuju air terjun, jika beruntung akan ditemui sekawanan kera yang berada di jalanan dan lahan pertanian milik warga, yang tengah mencari makan. Selain itu dibalik aIr terjun ini terdapat goa yang konon didalamnya terdapat tikus putih yang jarang ditemukan di berbagai tempat.

Air terjun yang diapit dua buah tebing ini berasal dari air kawah Sileri dan dipercaya oleh masyarakat setempat dapat membuat awet muda bila dikenai ke muka atau ke badan (mandi atau berendam).

Legenda

Konon pada jaman dahulu, Bupati Kolopaking pernah bersemedi di gua yang berada persis di belakang air terjun. Saat bersemedi meminta petunjuk, beliau mendapatkan kopel kuda, atau tali pengatur kendali kuda. Untuk itulah air terjun itu diberi nama Sikopel.
 
Lokasi

Terletak di Desa Babadan, Kecamatan Pagentan, Kabupaten Banjarnegara, Propinsi Jawa Tengah.

Aksesbilitas

Berjarak sekitar 8 km sebelah barat dari Kantor Kecamatan Pagentan dengan menggunakan kendaraan pribadi sampai pintu gerbang. Jika dari lokasi wisata Dieng hanya membutuhkan waktu kira-kira satu jam saja. Kondisi jalan menuju kesana cukup berkelok-kelok melewati perbukitan.

Selanjutnya dari pintu masuk ini perjalanan diteruskan dengan berjalan kaki sekitar 25 menit turun ke bawah.

Tiket dan Parkir

Tiket masuk adalah Rp 2000 per orang.


Fasilitas dan Akomodasi

Sayangnya belum di kembangkan baik dari segi sarana, prasarana maupun promosi.

Curug Pitu - Banjarnegara

Gambar : Curug Pitu


Pecinta Kaldera - Curug Pitu merupakan air terjun yang ada di dekat sentra Salak Pondoh (agak dekat dengan wilayah Wonosobo). Curug ini memiliki tujuh buah tingkatan dari atas ke bawah sehingga diberi nama Curug Pitu. Untuk melihat keselurahan rangkaian tingkatan curug ini harus berjalan kaki naik ke atas/ke arah hulu, dimana jalan yang harus dilalui berupa jalan setapak yang sempit dan cukup licin. Diantara rangkaian tingkatan ini curug yang ke tujuh, yang terletak paling bawah, merupakan curug yang paling besar dan tinggi. Ketinggian curug ke tujuh ini sekitar 30 m dengan kolam dibawahnya yang dapat digunakan untuk mandi atau berenang.

Sayangnya curug ini sudah kurang terawat dan terjaga sehingga sedikit agak terlantar. Selain itu tak jauh dari Curug Pitu ini juga ada curug lain yang bernama Curug Kemiri yang ada di Desa Kemiri.


Lokasi


Terletak di Desa Sigaluh, Kecamatan Sigaluh, Kabupaten Banjarnegara, Propinsi Jawa Tengah.
Peta dan Koordinat GPS: -7° 24' 59.00", +109° 45' 27.00"

Aksesbilitas

Berjarak 10 km dari kota Banjarnegara ke arah timur. Dapat ditempuh dengan berkendara roda dua dan empat selama sekitar 10-15 menit dari pertigaan jalan Tekidadi yang terletak di jalan Propinsi Banjarnegara - Wonosobo. Pintu masuk ke curug ini ditandai dengan plang yang bertuliskan Obyek wisata Curug Pitu yang berada tepat di sebelah Balai Desa Sigaluh.

Candi Prambanan


Candi Prambanan ( candi Rorojonggrang ) terletak di Kec. Prambanan, Kab. Klaten, Jawa Tengah.
dibangun abad ke VIII Masehi, pada masa Kerajaan Mataram.
Candi Prambanan merupakan bangunan suci bagi agama Hindhu Siwa.
Di dalam candi Prambanan terdapat 3 Arca :
  • Arca Siwa Mahaguru
  • Arca Siwa Mahadewa
  • Arca Siwa Ganesha.

Candi Prambanan memiliki 3 bangunan utama yaitu :
  1. Candi Siwa
  2. Candi Brahma
  3. Candi Wisnu
Ketiga candi tersebut adalah lambang Trimurti dalam kepercayaan Hindu. Ketiga candi itu menghadap ke timur. Setiap candi utama memiliki satu candi pendamping yang menghadap ke barat, yaitu Nandini untuk Siwa, Angsa untuk Brahma, dan Garuda untuk Wisnu. Selain itu, masih terdapat 2 candi apit, 4 candi kelir, dan 4 candi sudut. Sementara, halaman kedua memiliki 224 candi.
Memasuki candi Siwa yang terletak di tengah dan bangunannya paling tinggi, anda akan menemui 4 buah ruangan. Satu ruangan utama berisi arca Siwa, sementara 3 ruangan yang lain masing-masing berisi arca Durga (istri Siwa), Agastya (guru Siwa), dan Ganesha (putra Siwa). Arca Durga itulah yang disebut-sebut sebagai arca Roro Jonggrang dalam legenda yang diceritakan di atas.
Di Candi Wisnu yang terletak di sebelah utara candi Siwa, anda hanya akan menjumpai satu ruangan yang berisi arca Wisnu. Demikian juga Candi Brahma yang terletak di sebelah selatan Candi Siwa, anda juga hanya akan menemukan satu ruangan berisi arca Brahma.
Candi pendamping yang cukup memikat adalah Candi Garuda yang terletak di dekat Candi Wisnu. Candi ini menyimpan kisah tentang sosok manusia setengah burung yang bernama Garuda. Garuda merupakan burung mistik dalam mitologi Hindu yang bertubuh emas, berwajah putih, bersayap merah, berparuh dan bersayap mirip elang. Diperkirakan, sosok itu adalah adaptasi Hindu atas sosok Bennu (berarti 'terbit' atau 'bersinar', biasa diasosiasikan dengan Dewa Re) dalam mitologi Mesir Kuno atau Phoenix dalam mitologi Yunani Kuno. Garuda bisa menyelamatkan ibunya dari kutukan Aruna (kakak Garuda yang terlahir cacat) dengan mencuri Tirta Amerta (air suci para dewa).
Kemampuan menyelamatkan itu yang dikagumi oleh banyak orang sampai sekarang dan digunakan untuk berbagai kepentingan. Indonesia menggunakannya untuk lambang negara. Konon, pencipta lambang Garuda Pancasila mencari inspirasi di candi ini. Negara lain yang juga menggunakannya untuk lambang negara adalah Thailand, dengan alasan sama tapi adaptasi bentuk dan kenampakan yang berbeda. Di Thailand, Garuda dikenal dengan istilah Krut atau Pha Krut.
Prambanan juga memiliki relief candi yang memuat kisah Ramayana. Menurut para ahli, relief itu mirip dengan cerita Ramayana yang diturunkan lewat tradisi lisan. Relief lain yang menarik adalah pohon Kalpataru yang dalam agama Hindu dianggap sebagai pohon kehidupan, kelestarian dan keserasian lingkungan. Di Prambanan, relief pohon Kalpataru digambarkan tengah mengapit singa. Keberadaan pohon ini membuat para ahli menganggap bahwa masyarakat abad ke-9 memiliki kearifan dalam mengelola lingkungannya.
Sama seperti sosok Garuda, Kalpataru kini juga digunakan untuk berbagai kepentingan. Di Indonesia, Kalpataru menjadi lambang Wahana Lingkungan Hidup (Walhi). Bahkan, beberapa ilmuwan di Bali mengembangkan konsep Tri Hita Karana untuk pelestarian lingkungan dengan melihat relief Kalpataru di candi ini. Pohon kehidupan itu juga dapat ditemukan pada gunungan yang digunakan untuk membuka kesenian wayang. Sebuah bukti bahwa relief yang ada di Prambanan telah mendunia.