![]() |
| Menuju Puncak Gunung Slamet 3428 Mdpl |
Sekilas
tentang Gunung Slamet
GunungSlamet merupakan gunung tertinggi di Jawa Tengah dan tertinggi kedua di Pulau
Jawa dengan ketinggian 3428 mdpl. Titik koordinat Gunung Slamet sendiri
terletak pada 7˚14’30”LS,109˚12’30”BT. Sedangkan letak administratifnya meliputi Kabupaten Brebes,
Kabupaten Banyumas, Kabupaten Purbalingga, Kabupaten Tegal, dan Kabupaten
Pemalang, Propinsi Jawa Tengah. Terdapat beberapa jalur pendakian untuk dapat
mencapai Puncak Gunung Slamet. Diantaranya, jalur pendakian Gunung Slamet via
Bambangan, jalur pendakian Gunung Slamet via Guci, dan beberapa jalur pendakian
Gunung Slamet lainnya seperti jalur pendakian Gunung Slamet via Baturraden dan
Pemalang. Namun, jalur legal pendakian Gunung Slamet hanya ada 2, yaitu jalur
pendakian Gunung Slamet via Bambangan dan jalur pendakian Gunung Slamet via
Guci. Diposting kali ini saya akan memberikan gambaran jalur pendakian Gunung
Slamet via Bambangan.
1.
Basecamp
jalur pendakian Gunung Slamet via Bambangan.
![]() |
| Gambar : Basecamp Gunung Slamet via Bambangan |
Bambangan merupakan nama sebuah desa
terakhir yang terletak di Kaki Gunung Slamet. Dahulu Basecamp pendakian Gunung
Slamet via Bambangan masih menggunakan salah satu rumah warga. Namun karena
ramainya pendaki, Basecamp dipindahkan dan memiliki tempat khusus yang cukup
luas. Pendakian dimulai dari titik ini dengan berjalan kaki setelah
menyelesaikan proses simaksi.
2. Pos
1 jalur pendakian Gunung Slamet via Bambangan.
![]() |
| Gambar : Pos 1 G. Slamet via Bambangan. |
Kami berangkat sekitar pukul 19:06 WIB dari Basecamp. Baru berjalan beberapa puluh meter kita langsung disambut gapura pendakian. Selanjutnya berbelok kearah kanan memasuki perkebunan penduduk. Jalan yang dilalui lumayan menanjak namun, masih terdapat beberapa bonus. Formasi awal Adi berada diposisi paling depan dan saya berposisi paling belakang bersama Gibran dan Syukur. Tim terpecah menjadi dua bagian ketika mulai memasuki hutan Pinus milik perhutani. Medan semakin menanjak dengan jalur pendakian yang sangat berdebu karena hujan masih belum mengguyur kawasan ini. Disepanjang jalur pendakian dari Basecamp menuju Pos 1 hanya melewati perkebunan dan hutan pinus perhutani. Hingga akhirnya sampailah kita di Pos 1 jalur pendakian Gunung Slamet via Bambangan. Pos 1 memiliki bangunan atau pondok yang dapat digunakan para pendaki untuk beristirahat. Tim menjadi satu kembali dan siap melanjutkan perjalanan menuju pos 2.
![]() |
| Gambar : Jalur pendakian yang sangat berdebu dimusim kemarau |
3. Pos
2 jalur pendakian Gunung Slamet via Bambangan.
Jalur yang dilalui semakin menanjak
dan masih berdebu. Namun, dari vegetasi sendiri ada perbedaan. Dari yang
tadinya didominasi oleh pohon pinus, sekarang menjadi lebih tertutup dengan
pohon-pohon besar. Kami sempat beberapa kali beristirahat untuk mengatur nafas
dan menstabilkan stamina sambil memakan beberapa makanan kecil yang kami bawa.
Tidak terlalu lama kami sampai di Pos 2 jalur pendakian Gunung Slamet via
Bambangan. Mungkin karena ditemani banyolan-banyolan kocak khas Walang
adventure yang dimotori oleh Rizka (ini nama seorang pria bertubuh lumayan gempal loh...) hehehe.
4.
Pos
3 Jalur pendakian Gunung Slamet via Bambangan.
![]() |
| Gambar : Persimpangan antara jalur dari Pemalang dan Bambangan |
Perjalanan
dilanjutkan kembali menuju pos 3 dengan medan yang semakin menanjak. Vegetasi
semakin rapat karena didominasi oleh pohon-pohon besar dan dibawahnya terdapat
semak yang sama rapatnya. Dari sini mulai terlihat kalu tim sudah mulai
kelelahan. Meskipun demikian, kami terus berjalan dan terus melangkah. Karena
target kami adalah pos 7, maka kami terus berjalan untuk sampai pos 7 pukul
04:00 WIB. Diantara Pos 2 dan Pos 3 terdapat persimpangan jalur pendakian dari jalur pendakian Pemalang. Berhati-hatilah ketika perjalanan pulang atau kembali ke Basecamp. Perhatikan secara seksama plang petunjuk arah yang ada.
![]() |
| Gambar : Pos 3 jalur pendakian Gunung Slamet via Bambangan |
5.
Pos
4 jalur pendakian Gunung Slamet via Bambangan.
Ketika kita
kembali beristirahat. Terlihat wajah lesu dan tubuh-tubuh yang mulai lunglai
karena sudah berjalan beberapa jam dengan medan yang terus menanjak. Sepertinya
tim memang sudah ‘pincang’ dan tidak memungkinkan untuk meneruskan perjalanan.
Dania dan Lia sepertinya sudah sangat mengantuk dan merosot dibarisan belakang.
Itu mengindikasikan kalau mereka berdua sudah sangat kelelahan dan disergap rasa
kantuk. Sedangkan Fuji, satu anggota Siput lainnya seperti sedang terbakar
semangatnya. Hampir disepanjang perjalanan dia terus berkicau memecah heningnya suasana. Mungkin karena
ada partner untuk berduet. Fuji bersama Rizka sepertinya adalah partner yang
cocok untuk memecah hening dan lelah. Karena mereka mampu menghadirkan suasana
jenaka dengan banyolan mereka masing-masing.
Seberapa
tingkat emosi kita dalam menikmati perjalanan, tubuh kita tidak mampu berbohong
kalau ia tengah kelelahan dan merasa kantuk. Akhirnya aku dan Adi berjalan
terlebih dahulu mencari lapak untuk mendirikan tenda. Tim sudah 'pincang' dan
mengharuskan untuk beristirahat dan melanjutkan perjalanan keesokan harinya.
Setelah aku menemukan area yang cukup luas untuk mendirikan keempat tenda yang
kami bawa, langsung saja tenda pertama terpancang sambil menunggu kedatangan
anggota lainnya. Kami memutuskan untuk camp dibawah pos 5 dengan berbagai
pertimbangan. Sekitar pukul 01:45 WIB semua anggota sudah berkumpul diarea camp
dan siap mendirikan tenda. Tidak ada banyak hal yang kami lakukan, karena
semuanya sudah didera kantuk. Tidak ada pilihan lain selain tidur pulas
menyiapkan tenaga untuk esok.
6.
Pos
5 jalur pendakian Gunung Slamet via Bambangan.
Keesokan
paginya. Maaf, maksud saya pagi menuju siang harinya saya terbangun dan hanya
tinggal kami bertiga (Aku, Adi, dan Syukur) yang masih berada di Camp.
Samar-samar aku seperti bermimpi ada beberapa bidadari berusaha membangunkan
tidurku dengan menyeret kakiku dengan senyum simetris.” Oh, ternyata aku hanya
mimpi disiang bolong”. Hehehe.
Membersihkan
kotoran yang telah mengering diwajah. Selanjutnya minum kopi ditemani remah
roti yang tertinggal untuk kami nikmati. Kami putuskan untuk melakukan summit attack
disiang bolong pada pukul 10:06 WIB. Mengingat teman-teman sudah berangkat
terlebih dahulu pada pukul 07:30 WIB. Untuk berjaga-jaga kami membawa 4 botol
air mineral dan beberapa makanan kecil untuk bekal dan berjaga-jaga apabila
teman-teman kehabisan bekal. Kami sengaja berjalan dengan cepat untuk mengejar
ketertinggalan dari teman-teman yang berangkat terlebih dahulu.
7. Pos 6 jalur pendakian Gunung Slamet via Bambangan.
![]() |
| Gambar : Pos 6 jalur pendakian Gunung Slamet via Bambangan |
Aku terus berjalan tanpa henti hingga tak begitu menghiraukan vegetasi sekitar mulai sedikit terbuka. Pohon-pohon besar yang tadinya mendominasi perjalanan dari pos 2-5 kini sudah jarang terlihat. Sempat aku bergantian dengan Adi membawa daypack berisi bekal dibawah pos 6. Pos 6 hanya ada tempat untuk mendirikan camp dan tidak begitu luas. Aku masih terus berjalan dengan target bertemu dengan anggota paling belakang yang sedang berjalan menuju puncak.
8.
Pos
7 jalur pendakian Gunung Slamet via Bambangan.
Terus
berjalan tanpa henti hingga nafas kian memburu karena metabolisme tubuh semakin
gencar. Apalagi debu-debu yang beterbangan terkena sepakan pendaki yang naik
maupun turun semakin membuat mata pedih dan suasana kurang bersahabat. Namun,
hal itu aku anggap biasa saja. Karena itulah resiko mendaki dimusim kemarau
yang kering. Tak begitu lama sampailah aku di pos 7 jalur pendakian Gunung
Slamet via Bambangan. Di Pos 7 ada pondok atau bangunan untuk beristirahat.
Dahulu ada bale-bale yang dapat digunakan sebagai tempat tidur, tidak tau kalau
sekarang. Sebab, aku tidak masuk kedalam karena mengejar teman-teman
sependakian.
9.
Pos
8 jalur pendakian Gunung Slamet via Bambangan.
![]() |
| Gambar : Pos 8 jalur pendakian Gunung Slamet via Bambangan |
Ditengah perjalanan dari pos 7 menuju pos 8, aku sempat terhenti sejenak. Tenggelam dalam lamunan dan hanya tertegun menatap sebuah tempat yang sudah jauh berubah, namun tetap ku kenali. “Inilah tempat dimana hidupku hampir berakhir 6 tahun silam. Terima kasih Tuhan, aku masih diberi kesempatan untuk melanjutkan hidup dan kembali lagi kesini” aku berbicara pada diriku sendiri. Tentang memori pahit yang pernah menimpa diriku ditempat itu.
Lamunanku
pecah seketika teringat kembali misi mengejar teman sependakian,
Siput adventure.
Kita jalan lagi gan!
Aku kira mereka sudah dekat, karena disepanjang jalur menuju puncak sepertinya mereka tak terlihat.
Benar saja.
Sesampainya di pos 8 ada tiga wanita siput pejuang tim hore yang sedang tertawa
lepas dengan penuh tenaga berdiri kokoh dengan gagahnya? Hehehe. Oh, tidak !
termyata mereka sedang berbaring lemas tanpa sedikitpun membawa bekal
(pelajaran yang harus diambil). Hehehe.
![]() |
| Gambar : Selfie di Pos 8 jalur pendakian Gunung Slamet via Bambangan |
“Weh, kalian masih disini? Yang lain mana?” tanyaku.
“Udah naik mas/diatas mas/udah duluan mas” celetuk ketiga siput pejuang tim hore.
sambil meletakkan daypack yang aku bawa “nih minum ga? ada biskuit juga kayanya didalem”
Tak selang
berapa lama Syukur disusul Adi sampai di pos 8. Mereka lekas bergabung dengan
kami yang sampai terlebih dahulu di pos 8. Sambil minum dan makan sedikit
bekal, kami ngobrol ngalor ngidul dengan tema yang tidak begitu jelas. Lumayan
lah...untuk membangkitkan mood untuk melanjutkan perjalanan.
![]() |
| Gambar : Adi WB di atas Pos 8 jalur pendakian Gunung Slamet via Bambangan |
10. Pos 9 jalur pendakian Gunung Slamet via Bambangan.
Sepertinya
ketiga pejuang siput kembali mendapat suntikan semangat dan siap melanjutkan
perjalanan. Medan yang dilalui semakin menanjak dan semakin terbuka. Disekitar
terdapat beberapa bunga edelweiss yang sama sekali tidak berbunga, dan beberapa
tanaman yang mengering. Panorama mulai terpampang jelas dengan semakin
terbukanya vegetasi. Ada punggungan dengan tebing vertikal disalah satu
sisinya, ada hamparan hutan yang mengelam disapu kabut, dan di atas, trek menuju
puncak terpampang jelas didepan mata.
![]() |
| Gambar : Rihan di Plawangan |
Jarak dari
pos 8 menuju pos 9 tidak begitu jauh, namun sedikit lebih terjal dari
sebelumnya. Kami terus berjalan perlahan menuju pos 9 (Plawangan). Pos 9
merupakan batas vegetasi dan juga terdapat dua tempat 3 tempat untuk mendirikan
tenda. Kami sempat beristirahat di pos 9 bersama teman-teman lainnya. Sambil
ngobrol santai dan menikmati pemandangan yang sangat indah terhampar didepan
mata. Disini ada beberapa tempat untuk mendirikan tenda, namun sangat rawan badai. Itu karena ketinggian dan lokasinya sangat terbuka tanpa adanya pepohonan yang mampu menghambat angin kencang.
11. Puncak Gunung Slamet 3428 mdpl.
Setelah
beristirahat beberapa lama, kami putuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju
puncak. Semua anggota Siput sudah terkumpul dan siap berjalan menjadi satu
rombongan kembali. Medan yang kami lalui adalah medan bebatuan dengan
kemiringan yang sangat terjal. Jadi,
harus mempelajari trik mengatasi medan berpasir/berbatu dengan kemiringandiatas rata-rata ketika mendaki gunung. Namun, perjalanan akan sangat lama
apabila dipaksa harus selalu berkelompok. Mengingat waktu juga sudah beranjak
sore. Akhirnya saya putuskan untuk naik seorang diri karena akan turun kembali
menuju camp untuk menyiapkan makanan. Aku yakin setiap anggota laki-laki Siput adventure memiliki rasa tanggung jawab terhadap semua anggotanya, terutama anggota perempuannya.
![]() |
| Gambar : Luapan kegembiraan setelah di Puncak |
Aku terus
berjalan menuju puncak, dan bertemu dengan Gibran yang sedang beristirahat
diatas batu. Sedangkan tiga orang dari Walang adventure sudah berangsur turun
tepat diatas Gibran. Kami sempat saling menyapa dan bercanda ketika berpapasan. Aku terus berjalan menuju puncak sejati Gunung Slamet
diketinggian 3428 mdpl. Sesampainya dititik tertinggi Gunung Slamet, aku lihat
ada muda-mudi yang sedang sibuk berfoto ria. Aku tunggu sejenak hingga mereka
selesai melakukan ritualnya. Setelah mereka selesai berfoto aku baru mendekat
menuju plang yang menunjukkan titik tertinggi Gunung Slamet, dan lekas
mengambil gambarnya.
12. Puncak Tugu Gunung Slamet.
Karena tidak
enak dengan muda-mudi tersebut, aku putuskan untuk melanjutkan perjalanan
menuruni punggungan puncak menuju Puncak Tugu. Aku sempat berpapasan dengan
Gibran ketika akan menuruni punggungan. Gibran langsung menuju Puncak sejati Gunung Slamet 3428 mdpl. Setelah turun dan sedikit jalan naik,
sampailah aku di Puncak Tugu Gunung Slamet. Aku lantas melihat kesekeliling
menikmati pemandangan disekitar. Kawah baru dengan kepulan asap dan lebarnya yang luas menganga terpampang jelas didepan mata. Aku hanya terdiam memandangi ciptaan Tuhan yang maha dahsyat tersebut, sambil menyelipkan beberapa bait.
![]() |
| Gambar : Kawah aktif Gunung Slamet |
Boleh ya
teman, aku sisipkan sedikit embel-embel...
Rahayu
Rahayu
Jawa
tengahku, jawa tengah mereka
Kini dihadapannya tugu yang membatu
Diantara kaldera yang menganga
terbuka masih menganga lebih luasnya
Kini dihadapannya tugu yang membatu
Diantara kaldera yang menganga
terbuka masih menganga lebih luasnya
Dari pasir
mendesir sampai kerakal berserak marak
Sampai mendatar seluas pandang
Mengepul asap segumul langit menggempal
Pangkalnya menguning meski tak terpancar surya
Sampai mendatar seluas pandang
Mengepul asap segumul langit menggempal
Pangkalnya menguning meski tak terpancar surya
Aku
bersumpah dengan tegak berdiri
Tak menantang ataupun menyerang
Aku hanya membatu sama seperti tugu
Bisu tiada menentu
Tak menantang ataupun menyerang
Aku hanya membatu sama seperti tugu
Bisu tiada menentu
Ternyata aku
sedang sendiri
Menyambangi rahayu dirimu
Dasa nama untuk tanah dimana aku berpijak
Rahayu selamatkan aku dan cerahkan suram
Ketika kulempar angan menuju masa lalu
Tubuh mengaku bukan menjadi aku
Ketika hijrah tanpa berpelengkap zirah
Dari sedikit yang tergolong
Menyambangi rahayu dirimu
Dasa nama untuk tanah dimana aku berpijak
Rahayu selamatkan aku dan cerahkan suram
Ketika kulempar angan menuju masa lalu
Tubuh mengaku bukan menjadi aku
Ketika hijrah tanpa berpelengkap zirah
Dari sedikit yang tergolong
Dikejauhan
punggung kaldera membiaskan
Langkah-langkah manusia dengan garang tekadnya
Telah berulang kali aku katakan padanya
Manusia tak sekecil apa yang terlihat
Langkah-langkah manusia dengan garang tekadnya
Telah berulang kali aku katakan padanya
Manusia tak sekecil apa yang terlihat
Makhluk
hebat bila menjauh dari kafarat
Sedangkan aku masih membatu bagaikan tugu
Melongok laki bini yang belum jadi saling memerikkan keadaan
Sedangkan aku masih membatu mulai mendebu
Sedangkan aku masih membatu bagaikan tugu
Melongok laki bini yang belum jadi saling memerikkan keadaan
Sedangkan aku masih membatu mulai mendebu
Diufuk barat
pancarannya mulai karam
Sedikit saja akupun mengikuti permainannya
Biarpun karam namun begitu jua
Pencerahan terbit kembali kala sang surya mulai padam
Diantara jurang aku masih membatu mulai karam
Sebatas apakah?
Manusia hanya sebatas kelahiran dan mortalitas orang barat bilang
Hanya sebatas itu dan aku masih saja membatu diatasmu wahai rahayu
Sedikit saja akupun mengikuti permainannya
Biarpun karam namun begitu jua
Pencerahan terbit kembali kala sang surya mulai padam
Diantara jurang aku masih membatu mulai karam
Sebatas apakah?
Manusia hanya sebatas kelahiran dan mortalitas orang barat bilang
Hanya sebatas itu dan aku masih saja membatu diatasmu wahai rahayu
Begitulah
kira-kira apa yang aku lamunkan disela-sela hening diantara kesendirian. Aku
mulai beranjak dari tempatku dan mulai berjalan untuk kembali. Diperjalananku
turun, aku bertemu beberapa anggota lainnya. Ari sudah terlebih dahulu
melangkah beberapa puluh meter didepan teman-teman. Lia hanya terdiam melihatku
turun dengan muka masam dan sepertinya enggan berpijak lagi. Namun, tetap saja ia berjalan.
Kami sempat berbicara entah apa tema yang kita bicarakan. Yang jelas aku hanya
cengengesan bersama Lia dan Syukur karena berbicara tanpa tema dan hanya untuk
menghasilkan tawa. Kemudian datang anggota lainnya yang mulai meringsek menuju
puncak. Sempat sejenak aku berhenti berbincang legit dengan Fuji diatas bebatuan.
Lagi-lagi entah apa temanya, yang jelas kami hanya sedikit tersenyum dan mengernyitkan dahi. Aku kembali turun
melanjutkan perjalanan menuju Camp.
![]() |
| Gambar : Dania sedang beristirahat diatas bebatuan |
Kali ini aku
bertemu lagi dengan ‘pendaki roker’. Siapa lagi kalau bukan Dania. Ya, aku
turun bersama Dania sambil mendengarkan tausiah yang sangat bermanfaat untuk
bahan pertimbangan dalam hidup. Terima kasih uhti !
Meskipun Dania tidak melanjutkan perjalanan ke Puncak, namun sudah banyak perbaikan dari pendakian-pendakian sebelumnya.
Tanpa sadar kita telah berjalan cukup jauh dan hampir sampai di Pos 5. Kami sempat beristirahat sejenak disitu. Hening suasana terpecahkan oleh datangnya Ari yang tiba-tiba muncul dari jalan sempit yang kanan kirinya terhimpit tebing rendah, atau lebih tepatnya seperti jalur air. Jadi, aku meneruskan perjalanan sendiri dan Ari aku tinggal untuk menemani Dania dibelakang. Meskipun sudah aku percepat jalanku, tetap saja aku sampai di Camp ketika hari mulai senja. Aku berjalan cepat menuju Camp hanya dengan satu alasan, yaitu memasak untuk makan bersama.
Tanpa sadar kita telah berjalan cukup jauh dan hampir sampai di Pos 5. Kami sempat beristirahat sejenak disitu. Hening suasana terpecahkan oleh datangnya Ari yang tiba-tiba muncul dari jalan sempit yang kanan kirinya terhimpit tebing rendah, atau lebih tepatnya seperti jalur air. Jadi, aku meneruskan perjalanan sendiri dan Ari aku tinggal untuk menemani Dania dibelakang. Meskipun sudah aku percepat jalanku, tetap saja aku sampai di Camp ketika hari mulai senja. Aku berjalan cepat menuju Camp hanya dengan satu alasan, yaitu memasak untuk makan bersama.
![]() |
| Gambar : dari kanan belakang ; Awal, Syukur, Rizka, Udin, Fuji, Dania, Indra, Adi, Gibran. Barisan depan ; Rihan, Ari, Lia |
Disana
Walang adventure dan Awal sedang beristirahat. Aku langsung saja memasak apa
yang perlu dimasak. Sayuran yang Dania beli sudah busuk sebagian. Jadi, aku
tambahkan kentang saja agar semua dapat merasakan nikmatnya sop. Awal bersamaku
didalam tenda memasak sop dan sarden dengan resep sama seperti membuat cerpen
fiksi (mengarang). Iris, cuci, dan rebus. Masak ! masak! Dan masak !
Semoga menjadi masakan yang berkah, meskipun rasanya akan sedikit aneh. Sehabis maghrib matang sudah nasi Walang adventure masak. Selanjutnya apa lagi?
Makan ! ya, makan bersama adalah suatu kenikmatan tersendiri setelah berjibaku dengan jalur pendakian Gunung Slamet. Semua menikmati dan semua merasakan masakan ala kadarnya.
Semoga menjadi masakan yang berkah, meskipun rasanya akan sedikit aneh. Sehabis maghrib matang sudah nasi Walang adventure masak. Selanjutnya apa lagi?
Makan ! ya, makan bersama adalah suatu kenikmatan tersendiri setelah berjibaku dengan jalur pendakian Gunung Slamet. Semua menikmati dan semua merasakan masakan ala kadarnya.
![]() |
| Gambar : Bersama "Duo Be" |
![]() |
| Gambar : Bersama bocah lereng Gunung Slamet |
Dengan sampainya semua anggota di Basecamp, menjadi pertanda bahwa perjalanan kali ini akan segera bersambung diperjalanan selanjutnya. Beberapa teman sedang sibuk membersihkan diri, ada juga yang sedang mempacking barang bawaan, dan aku memilih minum kopi di warung depan Basecamp sambil berbincang-bincang dengan teman-teman sebelum kami berpisah.
Silahkan tonton juga videonya dibawah ini..
Silahkan tonton juga videonya dibawah ini..
Catatan :
- Bawalah masker, buff, ataupun slayer ketika mendaki dimusim kemarau untuk meminimalisir debu yang masuk kedalam saluran pernafasan.
- Usahakan agar tidak memunculkan kepulan debu berlebihan dengan langkah kaki kita.
- Summit attack biasanya adalah tahap terberat dalam pendakian. Sehingga sangat disarankan untuk membawa bekal air, obat-obatan pribadi, dan air secukupnya.
- Tuhan Yang Maha Esa.
- Tim :
- Adi WB.
- Ari Ardiansyah.
- Rihan B.
- Awal
- Gibran.
- Syukur.
- Rizka.
- Udin.
- Indra.
- Lia Afrida.
- Fuji E.M
- Dania B.
- Basecamp Gunung Slamet via Bambangan.
- Warga Dusun Bambangan.
- Siput adventure dibalik layar :
- Arif.
- Amalia A.
- Legina.
- Ryo.
- Parkit.
Sekian catatan perjalanan kali ini bersama Siput adventure dan Walang adventure yang berjudul Jalur Pendakian Gunung Slamet Via Bambangan, Suasana Baru Menuju Titik Tertinggi Jawa Tengah. Semoga bermanfaat dan selamat berpetualang. ||H2S||

























Hhhhooowwowowowo, awesome, keren bro
ReplyDeletehaha makasih bro
DeleteTerimakasih sangat membantu jika ingin mendaki
ReplyDeletecek tentang pendaki kecil
http://ebitjuandabodoh.blogspot.co.id/2016/04/pendaki-kecil.html
sama-sama bro
Deletesalam rimba, oiya kalo belom pernah naik gunung, Kamu Harus Mempersiapkan 4 Hal ini Sebelum Menaklukkan Gunung untuk Pertama Kali
ReplyDeletenyepam, nyepam, nyepam hehe
DeleteKeren
ReplyDeleteMakasih bro
Delete