Mendaki gunung di musim pancaroba bukan kegiatan yang mudah. Cuaca
yang tidak menentu, membuat tanah menjadi gembur dan sulit dipijak.
Hujan yang turun tidak menentu membuat jalanan sepanjang pendakian
menjadi licin.
Pendakian Gunung Sindoro ini dilakukan oleh Pecinta Alam Oxygen-16
Teknik Kimia Universitas Diponegoro pada tanggal 3 hingga 4 Maret 2013.
Alhamdulillah kami berhasil mencapai puncak dan mendapatkan pengalaman
yang luar biasa.
Minggu itu sebenarnya bukanlah saat yang tepat untuk melakukan
pendakian. Bagaimana tidak? Cuaca sangat tidak mendukung. Ditambah lagi
terjadi musibah yang menimpa rekan Pecinta Alam Mapateksi. Korban tewas
terseret arus sungai di Gua Kiskendo, Kendal.
Namun teman-teman saya memberanikan diri atau bisa dibilang nekat
untuk tetap mendaki salah satu gunung tertinggi di Jawa Tengah yaitu
Gunung Sindoro. Berbekal perlengkapan standar naik gunung dan makanan
yang berlebih, pukul 11.00 WIB kami berangkat dari tempat berkumpul,
yaitu GSG Undip Tembalang.
Kami tiba di basecamp Gunung Sindoro pukul 14.00 WIB. Beberapa dari
kami kemudian melaksanakan ibadah salat dan mengisi perut dengan makan
di warung-warung di sekitar basecamp. Kondisi basecamp terlihat sangat
bagus.
Basecamp merupakan balai desa di daerah tersebut dan tempat berkumpul
pemuda setempat untuk sekedar nongkrong. Sehingga basecamp terlihat
selalu ramai.
Setelah kami bersiap untuk naik, tiba-tiba hujan deras mengguyur kaki
Gunung Sindoro. Kami terpaksa menunda keberangkatan hingga hujan reda.
Alhamdulillah hujan tidak berlangsung lama.
Sekitar pukul 16.00 WIB setelah hujan reda kami berkumpul untuk
memanjatkan doa dan bersiap memulai pendakian. Pendakian kami mulai
dengan melewati rumah penduduk dan ladang milik warga sekitar.
Beberapa kali kami berpapasan dengan warga yang kala itu sedang
bertani kol. Kol merupakan tanaman sayur yang paling banyak kami jumpai
di sini. Sepanjang perjalanan kami disuguhi hamparan padang kol yang
sangat luas.
Tak terasa hampir 1 jam kami berjalan dan mulai masuk ke area hutan.
Terdapat beberapa papan peringatan untuk para pendaki agar waspada
karena kawah Gunung Sindoro masih berstatus aktif. Juga ada beberapa
himbauan agar menjaga kebersihan dan kelestarian Gunung Sindoro.Â
Sebenarnya perjalanan melewati ladang penduduk ini bisa ditempuh
menggunakan motor. Biasanya beberapa pemuda menawarkan tumpangan sampai
melewati ladang. Namun tentu tumpangan ini tidak gratis.Â
Kami memilih berjalan kaki. Selain ingin lebih menikmati pemandangan,
kami juga ingin melakukan pemanasan sebelum pendakian melewati hutan
belantara Gunung Sindoro.
Hari mulai gelap. Terdengar suara azan Maghrib berkumandang dari
sebuah masjid di kaki Gunung Sindoro. Kami beristirahat sejenak sambil
menikmati sunset dengan latar belakang Gunung Sumbing.Â
Tak terasa perjalanan kami sudah berlangsung dua jam. Setelah azan
kami pun melanjutkan perjalanan kami kembali. Sekitar 30 menit kemudian,
kami sampai di Pos 1.
Kondisi Pos 1 ini biasa saja. Di sini hanya tampak sisa gubuk dan
lahan landai yang hanya cukup untuk 2 tenda ukuran kecil. Â Setelah
berisitirahat sejenak di Pos 1, kami melanjutkan perjalanan kami.
Target kami adalah Pos 3. Menurut kami Pos 3 memiliki dataran landai
yang cukup luas dan cukup untuk menampung 6 tenda kami. Perjalanan dari
Pos 1 ke 3 merupakan medan yang cukup menantang.
Kami berjalan melewati hutan. Terdapat beberapa lubang yang bila
tidak berhati-hati, kami bisa terperosok dan masuk ke jurang. Ditambah
lagi jalan yang licin akibat hujan semakin menambah tantangan.
Setelah sekitar 1,5 jam perjalanan dari Pos 1, kami tiba di Pos 2.
Tidak banyak yang kami lakukan di Pos 2. Kami hanya sekedar
beristirahat, minum, dan mengendurkan otot-otot kaki dan tangan yang
mulai kelelahan.
Perjalanan kami lanjutkan. Dari Pos 2, medan yang kami hadapi semakin
berat lantaran tanjakan yang lebih curam dan jalan yang cukup sempit.
Hal ini membuat beberapa dari kami mulai tampak kelelahan.
Kami menyiasati dengan istirahat beberapa kali di titik-titik yang
cukup landai. Meski hampir tidak ada tempat landai di jalur antara Pos 2
ke 3.
Beberapa dari kami yang membawa tenda berinisiatif untuk naik duluan
ke Pos 3. Mereka membangun tenda sehingga setelah semua anggota kelompok
sampai bisa langsung beristirahat.
Semua anggota kelompok sampai di Pos 3 sekitar pukul 22.00 WIB.
Beberapa dari kami memasak mie dan air untuk sekedar menghangatkan
badan. Suhu di Pos 3 Gunung Sindoro waktu itu tidak terlalu dingin jika
dibandingkan dengan dengan Pos 3 di Gunung Sumbing.
Setelah puas menyantap makanan, kami berisitirahat dan mempersiapkan
fisik untuk summit attack keesokan harinya. Kami beristirahat sampai jam
03.00 WIB, kemudian berkumpul kembali untuk melanjutkan perjalanan.
Cuaca pagi itu sangat cerah.
Ditemani bintang-bintang, kami melanjutkan perjalanan ke puncak
Gunung Sindoro. Beberapa dari kami terpaksa tidak melanjutkan perjalanan
karena masalah fisik yang kurang bugar.
Memang fisik merupakan salah satu faktor terpenting karena jalur
pendakian dari Pos 3 ke puncak sangat terjal. Ditambah dengan tanah
gembur yang tidak stabil saat dipijak. Jika salah memijak, bisa-bisa
kita terperosok dan terjun ke jurang.Â
Kondisi yang masih gelap juga sedikit menghambat perjalanan kami
menuju puncak. Kami sarankan untuk tidak membawa perlengkapan yang
terlalu berat, cukup membawa makanan dan air minum secukupnya.
Sekitar pukul 05.15 WIB sang mentari mulai menampakkan wajahnya di
belakang kami. Terlihat dengan indah bagaimana sunrise dipadu dengan
paket Gunung Sumbing, Merbabu, Merapi, dan pemandangan Kota Temanggung
dengan lampunya yang bercahaya.
Kami mungkin sedikit kecewa lantaran tidak bisa menikmati sunrise di
puncak. Tapi hal ini sedikit banyak terobati karena pemandangan dari
tempat kami berdiri sudah sangat indah. Sunrise benar-benar terlihat
jelas.
Foto di atas merupakan gambar yang kami ambil saat perjalanan menuju puncak.
Perjalanan ke puncak merupakan medan terberat dalam perjalanan kami.
Selain tanah yang gembur, jalur juga dipenuhi batu-batu kerikil yang
cukup tajam.Â
Kami harus berhati-hati supaya batu-batu tadi tidak jatuh dan menimpa
teman yang berada di bawah kami. Kelelahan mulai terlihat di raut wajah
kami. Namun semangat dan tekad untuk menaklukkan Sindoro bisa
mengalahkan rasa lelah kami.
Setelah perjalanan yang panjang, sekitar pukul 07.15 WIB kami tiba di
puncak Gunung Sindoro. Kawah Jalatundanya masih mengeluarkan aroma
belerang yang cukup menyengat.
Kami berisitrahat dan menikmati keindahan Puncak Sindoro yang
terkenal akan padang edelweissnya. Dari Puncak Sindoro, kami bisa
melihat beberapa puncak gunung diantaranya Prahu, Merbabu, Merapi,
Sumbing, Ungaran, Slamet, dan samar-samar terlihat Puncak Lawu.
Selain itu jika mau mengelilingi puncak Sindoro kita bisa melihat
kawasan dataran tinggi Dieng dengan Telaga Warnanya yang terlihat indah.
Sekitar pukul 08.00 WIB kami memutuskan untuk turun. Jika terlalu
siang biasanya kabut akan turun. Bau belerang dari kawah akan semakin
menyengat dan cukup berbahaya karena sangat beracun.
Sekitar satu jam kemudian kami sampai di Pos 3. Setelah itu kami packing, makan, dan bersiap turun gunung.
Kami sampai di basecamp Gunung Sindoro pukul 12.30 WIB. Sembari
menunggu truk datang menjemput, kami sempatkan untuk salat dan menyantap
nasi bungkus yang sebelumnya telah kami pesan ke warung di dekat
basecamp.
Kemudian setelah puas makan dan beristirahat, pukul 15.00 WIB kami
melanjutkan perjalanan ke Semarang dan tiba di GSG Undip pukul 18.30
WIB.
sumber



0 komentar:
Post a Comment