Pecinta Kaldera - Minggu lalu saya
diajak oleh teman saya untuk mendaki Gunung Geulis. Karena kebetulan
tidak mempunyai kegiatan di akhir pekan, saya mengiyakan ajakan teman
saya untuk ikut “jalan-jalan” ke Gunung Geulis, ya itung-itung
refreshing otak sembari mencoba menikmati keindahan alam hehehehe.
Nama Gunung Geulis
sendiri masih terdengar asing dikalangan pencinta alam. Namun, bagi
orang-orang yang kebetulan sedang belajar di kawasan pendidikan
Jatinangor; Sumedang; Jabar, nama gunung ini sudah sangat tidak asing
lagi, namanya begitu populer. Bersama Gunung
Manglayang, Gunung Geulis telah menjadi ikon Jatinangor di pinggiran
Kota Bandung. Ingat Jatinangor, pasti langsung ingat dengan nama kedua
gunung ini.
Gunung
Geulis terletak di kecamatan Jatinangor, Sumedang, Jabar. Tingginya
sekitar 1200-an meter dari permukaan laut. Walaupun pun tingginya tidak
terlalu tinggi, jangan sekali-kali meremehkan gunung ini ya, bisa bahaya
nanti hehehehe. Sekedar bercerita, dua tahun yang lalu, saya pernah
mendaki gunung ini, karena kita salah memilih jalur, kita sempat
tersasar ketika hendak tiba di puncak yang menyebabkan waktu tempuh
menjadi lebih lama. Untungnya waktu itu, akhirnya nyampe juga di puncak.
Sabtu sore saya dan
lima teman saya (D, H, A, B, dan I) mulai trekking menuju Gunung Geulis.
Dari rumah kost salah satu teman saya, kita trekking menuju Desa
Jatiroke, desa ini adalah terdekat yang berada di bawah kaki Gunung
Geulis. Untuk menuju Desa Jatiroke, kita memotong jalan melalui Desa
Sukawening. Kita menyusuri sawah-sawah yang berada di antara kedua desa
ini. Pemandangan sawah di desa ini sungguh mempesona, benar-benar suatu
lukisan alam yang indah.
Tiba di Desa
Jatiroke, untuk menuju kaki gunung, kita menyusuri jalan yang berada di
samping SD Jatiroke. Boleh dibilang inilah jalur yang paling umum
dilalui untuk menuju puncak Gunung Geulis. Sepanjang perjalanan, kita
melewati rumah dan kebun warga yang ada di desa ini. Kebanyakan warga di
sini menanam ubi dan tembakau di kebun mereka. Menjelang Magrib, kami
tiba di batas antara kebun warga dan hutan lindung. Dari titik ini,
Jatinangor yang beranjak gelap, lampu-lampu kota di bawah pun mulai
menyala secara perlahan-lahan.
Memasuki hutan
lindung Gunung Geulis, hari sudah mulai gelap, lampu senter pun
dinyalakan. Kita menyusuri jalan setapak yang hanya pas-pasan dilewati
oleh satu orang saja, terus masuk hingga ke dalam hutan. Jalan yang
dilewati awalnya masih datar-datar saja, masik ok buat pendaki gadungan
seperti saya ini hehehehe. Perjalan menuju puncak diiringi oleh
suara-suara hewan malam yang mulai beraktifitas. Bagi saya, menyusuri
hutan dan ditemani suara-suara alam, inilah yang saya sebut menikmati
alam, bikin otak refresh lagi hehehehe.
Satu
jam berjalan, kontur jalan sudah agak tidak bersahabat bagi pendaki
gadungan seperti saya hehehehe. Jalan yang terus menanjak membuat tenaga
cukup terkuras habis. Kabut tebal yang mulai turun membuat jarak
pandang yang semakin terbatas, membuat kami harus ekstra berhati-hati
melangkah dan menuntut tetap fokus. Karena medan yang terus nanjak,
beberapa kali kita harus bersistirahat untuk “mencharge” tenaga kembali.
Sekitar pukul 9
malam, setelah mendaki selama 2,5 jam kaki kaki gunung, akhirnya tujuan
kita tercapai hehehehe, tiba di puncak Gunung Geulis. Puncak gunung ini
bisa dibilang cukup datar dan cukup luas, saking luasnya teman saya
bilang bisa maen bola di puncak gunung ini hehehehe. Di puncak gunung
ini terdapat beberapa makam yang dinaungi oleh saung-saung. Ada dua buah
pohon beringin besar yang menjadi tanda bahwa tanah ini merupakan
puncak tertinggi gunung ini.
Tiba
di puncak, kita cari “lapak” untuk mendirikan tenda. Kita agak
kesulitan untuk mencari tanah datar untuk mendirikan tenda karena puncak
ditumbuhi ilalang yang tingginya melebihi tinggi orang dewasa.
Kondisinya sangat berbeda ketika saya datang ke sini dua tahun yang
lalu, kala itu puncaknya bersih, tidak ada ilalang yang tinggi. Mungkin
karena saat ini masih musim hujan, ilalang tumbuh subur di puncak.
Karena ditumbuhi ilalang yang tinggi, sambil berkelakar, saya bilang ke
teman saya, sekarang kita nggak bisa main bola lagi di sini hehehe.
Setelah
mendapat “lapak” yang cukup lumayan datar, kita langsung mendirikan
tenda dan memasak bekal makanan yang kita bawa untuk kita makan. Malam
itu kita makan malam dengan
cara “ngeliwet”, makan bersama-sama di atas daun pisang. Karena
kesulitan mencari daun pisang untuk alas, alas makannya diganti dengan
kantong plastik hehehehe, nggak papalah namanya juga ngeliwet dadakan.
Walaupun ngeliwet malam ini dengan nasi yang setengah matang (gagal
matang) dan lauk seadannya (baca: ikan asin) hehehehe, namun rasanya
tetap saja nikmat, suasana kebersamaan benar-benar terasa hehehehe.
Percaya atau tidak, apa pun makanan yang dimakan di atas gunung, rasanya
pasti selalu enak hehehehe.
Cuaca di puncak
malam itu begitu bagus sekali. Cuacanya tidak terlalu dingin dan tidak
ada badai, jangankan badai, angin pun tidak ada sama sekali hehehehe.
Cuacanya sangat mendukung untuk menikmati alam. Beres makan, waktu
dihabiskan untuk ngobrol ngalur ngidul saja sampai larut malam hehehehe.
Rencana besok pagi kita ingin menikmati matahari terbit dari ufuk
timur. Celakanya tidak ada satu pun yang bangun di antara kami ketika
matahari terbit, kita semua tertidur pulas hingga pagi menjelang.
Menikmati sunrise dinyatakan gagal total pagi ini hehehehe.
Pagi
harinya, kita sempatkan untuk berkeliling di puncak gunung yang luas
ini sambil mengabadikan momen dengan berfoto ria hehehehe. Sebelum turun
gunung, kita sarapan terlebih dahulu dan membersihakan sampah-sampah
makanan yang kita buat kemarin. Setelah semuanya rapi, kita siap untuk
pulang, rasa-rasanya nggak mau pulang karena sudah males untuk jalan
lagi, ini namanya bisa naik nggak bisa turun hehehehe.
Gn Manglayang, dari puncak Gn Geulis
Tepat pukul 7 pagi,
kita turun. Perjalanan menuruni gunung tidak kalah serunya dengan
menaikinya. Saya dan seorang teman saya (D) berada di barisan bagian
paling belakang. Kita sengaja memperlambat jalan kami karena pemandangan
di sini sangat sayang untuk dilewatkan. Pemandanganya sungguh luar
biasa indah, pegungungan yang berjejer rapi dan pepohonan yang hijau
royo-royo sungguh memanjakan mata saya. Belum lagi udara segar yang
menemani perjalanan kami pagi itu, sungguh sangat-sangat membuat otak
menjadi fresh kembali. Ajib banget deh pokonya hehehehe.
turun gunung
pemandangan
pemandangan 2
Perjalanan pagi ini
sangat dinanungi keceriaan hehehehe. Saking cerianya kita sempat nyasar
salah jalan hehehehe. Di tengah perjalanan, teman saya berkata
“sepertinya kita semalam nggak lewat sini deh, tapi dari atas tadi
jalannya kan cuma satu ini doang ya”. Uniknya semua teman saya yang
berada di depan merasa begitu, merasa salah jalan, padahal jalan dari
atas sama sekali tidak ada percabangan. Untungnya kita cepat mengusai
medan dan kembali ke trek yang benar. Lagi-lagi hikmanya jangan
sekali-kali “meremehkan” gunung ini, waulupun tidak terlalu tinggi,
jalur-jalur cukup bervariasi, tetap fokus dan kenali medan.
Setelah dua jam menuruni gunung ini, akhirnya kita sampai di batas antara hutan lindung dan kebun warga. Di dalam
kebun, tampak beberapa petani sedang mengolah tanah mereka. Kita
menghampiri salah satu petani yang sedang panen ubi di kebunnya, teman
saya menawar untuk membeli ubi yang baru siap ini, fresh from the oven.
Ah lengkap sudah petualangan kali hehehehe.
beli ubi
Sekian semoga bermanfaat. Salam Hijau,,


0 komentar:
Post a Comment