Lama sekali sudah blog ini terbengkalai karena kesibukan dan kegiatan aku selepas menikah.
Malam ini ada sedikit kerinduan membuka memori tentang dunia yang sudah lama aku tinggalkan, dunia outdoor. Bahkan, hari ini semua piranti seperti seat harnes, chalkbag, carabiner, bahkan tenda semua sudah aku jual karena sudah mulai berjamur karena tak pernah tersentuh.
Saat itu saudara W#### Kurniawan masih belum secetar sekarang ini.
Ketika hati ini tiba-tiba bergejolak mengingat masa-masa remaja yang penuh dengan petualangan. Aku mencoba menulis tentang kisah pertemuanku dengan Denny Sumargo. Salah seorang aktor dan juga mantan atlet basket nasional.
Kuawali dengan googling tentang pendakian Deny Sumargo ke Gunung Kerinci. Di page pertama aku menemukan artikel yang cukup menarik. Disana dituliskan, bahwa Densu sapaan akrabnya, pernah hilang sesaat di Gunung Kerinci. Ini cukup mengagetkan untuk aku pribadi. Karena dalam artikel tersebut, kejadian itu sekitar 6 tahun lalu dan artiket tersebut terbit tahun 2020, itu berarti tahun yang sama ketika aku bertemu empat mata dengannya di Gunung Kerinci.
Setelah aku melihat foto Densu ketika ditemukan oleh beberapa pendaki, menambah keyakinaku bahwa itu hari yang sama ketika aku bertemu dan sempat ngobrol sebentar dengan dia. Itu karena celana, ransel, dan sepatu yang ia kenakan sama persis ketika bertemu denganku.
Kejadian ini bermula sekitar tahun 2014-2015an dan bulan serta tanggalnya aku sudah tidak ingat lagi. Tetapi untuk harinya aku masih sangat mengingatnya.
Setelah melanjutkan perjalanan semalam suntuk dari Pekanbaru menuju Kayu Aro menaiki mobil travel. Aku beristirahat sejenak di Basecame mas Levi. Hari itu tepat pada hari jum'at. Sebelumnya aku menunggu pendaki lain yang sekiranya akan melakukan pendakian pada hari itu juga. Namun, karena itu adalah hari-hari awal pembukaan jalur pendakian setelah beberapa saat ditutup karena adanya erupsi-erupsi kecil, sehingga belum ada pendaki yang datang.
Hingga selepas ashar tidak ada satupun pendaki yang akan melakukan pendakian, sehingga aku putuskan untuk melakukan solo hiking. Aku lekas berjalan kaki dengan semua perbekal dan piranti yang kubawa. Tepat azan maghrib aku berhenti disebuah bangunan usang yang ada di Pintu rimba. Selain itu, karena ada puluhan beruk yang menghadangku dan sempat mendekat. Aku tarik tramontina yang aku bawa. Prinsip reacue adalah self difence dan mengutamakan keselamatan pribadi terlebih dahulu. "Maju, aku tebas!" Dengan nada kencang.
Namun, alhamdulillah mereka lekas menjauh dan masuk kedalam hutan dan menghilang dikegelapan.
Headlamp aku nyalakan dan terus meringsek masuk lebih dalam kejalur pendakian. Gelap, agak berlumpur, dan didominasi hutan heterogen dengan pohon-pohon besar menjulang tinggi. Akar-akar menjutai disepanjang jalur menanjak. Gelap, cukup hening, dan hanya sesekali ada suara hewan karnivora kecil meraung. Terkadang pikiranku melayang jauh kesosok harimau sumatera. Dalam hati hanya ada satu tekat, jika kemungkinan terburuk adalah bertemu dengan hewan tersebut "aku yang mati, atau kau yang mati" itu saja.
Pos demi pos pendakian aku lewati dengan medan yang tidak begitu berbeda. Tangan kanan erat menggenggam tramontina sebagai self difence. Sementara suara-suara hewan semakin banyak terdengar.
Malamnya aku sampai di shelter 3 dan aku putuskan untuk mendirikan tenda disana. Karena ketinggian sudah cukup aman menurut saya untuk berkemah. Selain itu vegetasi sudah cukup terbuka dan tidak begitu jauh dari puncak. Mulai dari basecame sampai shelter 3 aku sama sekali tak menemuai seorangpun. Dan itu sangat aneh menurutku, karena selepas tahun 2013 dunia pendakian mengalami lonjakan peminat yang begitu signifikan.
Singkat cerita aku bangun sebelum subuh dan melanjutkan pendakian menuju puncak. Aku sempat berhenti di Tugu yudha sejenak untuk melihat-lihat segala sesuatu yang ada disitu. Kemudian melanjutkan pendakian sampai puncak. Aku sempat menelepon calon istriku beberapa saat menggunakan provider 'merah' dipuncak Sumatera tersebut.
Kepulan asap hitam masih keluar dari kaldera Kerinci. Sementara daratan yang aku pijak masih sedikit basah dan seperti belum pernah terjamah orang lagi setelah tersapu material erupsi ringan. Sejenak saja aku terdiam menikmati pemandangan dan sempat mengambil gambar menggunakan HP jadul dengan kamera VGA sebelum kehabisan baterai. Itupun pemberian dari calon istri. Ya, itu karena android dan kameraku hilang ketika camping disalah satu spot camping di propinsi Riau.
Hari mulai agak panas aku bergegas turun menuju tenda sebelum kabut turun dan menghalangi jarak pandang. Sesampainya ditenda aku lekas mengemas semua barang bawaan dan langsung meringsek turun. Masih belum ada satupun orang yang aku temui. Dengan cepat aku berjalan turun untuk mengejar waktu sampai di basecame. Namun, sebelum sampai di shelter 2 aku yang terlalu fokus pada jalan tidak menyadari kalau didepanku ada seorang lelaki dengan badan tinggi tegap, berotot, bertindik, dan memiliki tatto dipunggungnya. Ia mengenakan celana lapangan warna army, sepatu lapanangan, serta menggendong ransel dengan warna yang hampir sama dengan celananya.
Ia sempat mengumpat dan menggerutu dengan logat khas Jakarta.
"Kenapa orang ini, kerjaannya menggerutu saja" dalam hati aku sedikit kesal dengannya.
"Shelter-3 masih jauh pak?" Ia menyapaku dengan sapaan khas pendaki Sumatera, pak/bu.
Sambil ancang-ancang duduk diundakan berakar aku menjawab "ga sih, tinggal dikit lagi sampai kok. Kalau jalan agak cepet"
"Abang dari Jakarta?" Tambahku.
Dengan nafas yang belum stabil, dengan singkat ia menjawab "lya"
"Sombong amat nih orang!" Dalam hati bergumam.
"Naik sendirian aja bang?" Lagi aku bertanya.
"Ga kok, ada temen dibelakang" ia coba menjelaskan.
"Oooh" jawabku.
Sambil meneguk n*w p*llpy orange aku melanjutkan sedikit obrolan ringan dengannya. Ia menatapku seperti kehausan. Ingin kutawari tapi takut ia tak doyan, yasudah aku masukkan lagi didalam saku. Kecuali jika ia memintanya, pasti aku bagi. Karena semenjak aku mengenal dunia ini, tidak ada kata gengsi dan jaim. To the point aja!
Ia sama sekali tidak duduk dan permisi untuk melanjutkan perjalanannya menuju shelter-3. Sedangkan aku meneruskan tujuanku untuk pulang. Ketika di Shelter-2 aku menjumpai 2 tenda yang sudah berdiri dan beberapa orang sedang membuat api unggun. "Kenapa sekarang agak ramai ya?" Aku bergumam dalam hati dan sempat menyapa mereka.
Sesampainya di Shelter-1 aku agak kaget karena banyak sekali orang disana.
"Ehhh...mas..mas..mas..." Salah seorang wanita dari rombongan mereka menghentikan langkahku.
"Ya, ada apa mba?" Jawabku
"Tadi, ketemu sama orang dijalan ga pas turun?" Tambahnya menginterogasi.
"Iya, tadi ada sih satu orang, ga pakai baju, badannya jadi, ada tindik, dan ada tatto dipunggung" aku jelaskan dengan detail.
"Nah, itu artis kami" serentak dari beberapa orang berbaju merah tersebut berteriak.
Aku hanya garuk-garuk kepala dan cengengesan sendirian sambil berpikir, siapakah dia?
Ah sudahlah, aku lanjutkan saja perjalanan dan meninggalkan puluhan orang berbaju merah tersebut.
Singkat cerita, ketika aku sampai dibasecame. Mas levi sedang bersiap untuk menuju Danau Kaco untuk menemani orang syuting 'si bolang' atau 'MTMA' aku kurang begitu jelas. Karena hampir 2 bulan tanpa adanya informasi baik dari televisi ataupun internet. Hanya menghabiskan waktu dihutan dan gunung-gunung di Sumatera saja.
Namun karena rasa penasaranku, aku mencoba browsing dengan hp jadulku dan mencari info tentang MTMA. Ternyata, orang yang tadi aku ajak ngobrol diatas Shelter-3 adalah Deny Sumargo atau sering juga dipanggil Densu. Itu semua ku ketahui dari postingannya disalah satu akun medsosnya. Dan dia memakai celana, sepatu, serta ransel yang sama seperti saat kami bertemu.
Ketika aku kembali dan sampai di Jawa lagi, kemudian membeli hp baru. Aku mencoba dm keakun instagramnya. Tanpa disangka-sangka ia membalas dengan singkat, bahwa memang benar dialah orang yang bertemu saya waktu itu. 😁 Begitulah masa-masa konyol dan menegangkan disaat solo hiking di Gunung Kerinci sebelum mengulanginya beberapa kali dengan kawan-kawan seperjuangan. [H2S]






0 komentar:
Post a Comment