Selepas era Orde Baru digulingkan oleh pegiat reformasi kehidupan dan sistem pemerintahan di Indonesia mengalami perubahan yang signifikan diberbagai sektor. Hal itu juga yang mempengaruhi kehidupan keluargaku pada khususnya. Masaa kejayaan usaha ayahku mulai mengalami penurunan dan itu berimbas pada kehidupan internal keluarga. Sehingga semua aku beserta saudara-saudaraku memilih jalnnya masing-masing.
Setelah aku beranjak dewasa dan menempuh jalur pendidikan disalah satu universitas swasta di Jawa tengah, aku mengalami banyak kendala beradaptasi dengan sistem pendidikan Indonesia yang selalu mengedepankan angka dan nilai dibandingkan pengembangan kualitas individu. Hal itulah yang membuatku tidak menyelesaikan strata satuku dibidang pendidikan. Meskipun aku sudah menempuh semua SKS yang ada dan menyisakan tugas akhir atau skripsi. Aku lebih memilih untuk pindah jurusan dibandingkan menyelesaikannya. Ketertarikanku terhadap dunia art dan design membuatku menempuh perkuliahan baru dengan sistem transfer jurusan di Fakultas Teknik, tepatnya teknik arsitektur. Selain itu banyak dari orang-orang disekitarku yang memilih bidang yang sama difakultas tektik.
Ketertarikan pada semua bidang membuat rasa penasaran terhadap hal baru apapun itu. Namun, baru satu semester berjalan, rasa ketidakcocokan mulai menghampiri benakku lagi. Masih soal sistem seperti sebelumnya. Dimana angka adalah acuan utama dalam menentukan kompetensi setiap mahasiswa. Idealisme yang ada dikepalaku selalu memberontak akan semua sistem yang menurutku sangat kolot. Disela waktu senggang aku selalu berdebat dengan kakak ipar dan kakak-kakakku dirumah. Tetapi, mereka selalu tidak sependapat dengan apa yang ada dalam pikiranku. Kita hidup di Indonesia dan harus mengikuti sistem yang ada. "Apabila kau ingin melawan sistem, maka bersiaplah untuk berdiri sendiri" ujar mereka.
Ketidakpuasaanku dengan semua sistem itulah awal dimana aku memutuskan untuk pergi dan mencari hal-hal baru. Memilih bekerja pada bidang konstruksi disalah satu perusahaan subkontraktor di Jakarta. Kebetulan kawan SMAku menjadi Project manager disana. Sehingga dengan mudahnya aku bisa masuk untuk bekerja disana, meskipun diatas kertas aku tidak memenuhi kriteria. Itulah negara ini, asal ada orang dalam dan semua menjadi lancar. Disitulah kita semua harus menyadari, bahwa reformasi tidak jauh lebih baik dibandingkan Orde baru. Karena sejatinya praktek Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme semakin tumbuh subur dinegara kita. Semua hal tersebut bermutasi menjadi lebih ganas dan bervariasi macamnya. Mulai dari pejabat tertinggi sampai ketingkat terendah dimasyarakat.
Singkat cerita, sore itu aku berangkat bersama dua orang dari kota kecil tempatku tinggal. Mereka adalah orang yang akan bekerja bersamaku di Kabupaten Cilegon nanti. Karena lokasi proyek berada disana. Dengan terus berkomunikasi kawanku Ilham mengarahkanku kelokasi kerja. Kami sampai dikota Cilegon keesokan harinya. Ilham menjemputku di terminal beserta kedua orang yang ikut bersamaku. Kami hanya mengobrol kecil saja dijalan hingga kami sampai di Mess tempat kami menginap. Kami berencana tinggal satu atap di Mess tersebut hingga proyek selesai. Setelah menata semua barang bawaan akhirnya kami beristirahat dan siap bekerja keesokan harinya.
Mentari pagi menyingsing dan kami bangun agak kesiangan karena lelah setelah perjalanan kemarin. Udara yang panas membuat kami berpeluh dan sedikit kurang nyaman dibuatnya. Setelah semua bangun dan mempersiapkan diri masing-masing, Ilham sebagai Project Manager memberikan briefing kepada semua anggota kerja yang ada disitu, tak terkecuali aku dan dua orang yang berangkat bersamaku. Ia menerangkan dengan singkat tentang proyek yang akan kita kerjakan nanti. Proyek tersebut ialah proyek Horizontal Directional Drilling, yang artinya kita akan melakukan pengeboran mendatar dibawah tanah.
Jam menunjukkan pukul 09:00 WIB, inilah waktu yang tepat untuk mulai bekerja. Ilham memberiku kemeja merah lengan panjang dan sepatu PDL. Sebelum pergi aku sempat menanyakan kepadanya tentang posisi apa yang harus aku emban. Ilhampun menjelaskan bahwa aku bertindak sebagai Human Safety Environment atau bisa disingkat HSE. Serta memiliki tugas untuk memastikan keselamatan kerja dilokasi proyek. Setelah aku paham secara garis besar apa yang harus saya kerjakan, langsung saya bergerak menuju lokasi kerja dan membawa semua APD untuk karyawan yang bekerja disana. Tak terkecuali road barrier, sign, dan alat pemadam kebakaran.
Hari itu, Ilham masih terus mendampingiku bekerja dan terus memberi penjelasan tentang hal-hal baru yang harus aku kerjakan. Sampai akhirnya kami menyelesaikan pekerjaan hari itu dengan cukup baik. Hari demi hari terlewati dengan pekerjaan yang nyaris sama. Hingga pada suatu hari, Ilham menyuruhku mengganti kemeja merah yang aku pakai dengan kemeja abu-abu dan dengan logo yang sama. Kemudian ia memberiku helm berwarna putih dengan lambang konstruksi dan sudah tertulis namaku disana. Aku sedikit bingung dan menanyakan hal itu kepada ilham. Namun, ia tetap tidak mau memberitauku. Kami berangkat bersama seperti biasanya. Namun, kali ini kita menuju bedeng fabrikasi.
"Selamat pagi pak, hari ini kita akan melangsir semua pipa ini menuju lokasi pengeboran untuk dilas pak" ujar penjaga bedeng tersebut. "Pagi. Oh ya, perkenalkan ini pak H2S, dia adalah supervisor baru disini. Dia dan pak Jimin akan bekerja bersaama dilapangan. Jadi, kalau dia butuh apapun dan meminta bantuan kepada anda, tolong turuti saja. Karena, mulai hari ini saya akan bekerja di mess dan 2 hari lagi saya akan ke Jakarta untuk mengambildrill head baru" jelas ilham kepadanya. Sontak orang tersebut tersipu malu karena kemarin membentak-bentak kami bertiga seenak jidatnya.
Mulai hari ini aku tau kalau Ilham memberiku jabatan baru dalam pekerjaan, yaitu Supervisor lapangan. Hal itu bukan tanpa alasan. Salah satu supervisor lapangan sebelumnya bekerja semaunya sendiri karena dia adalah warga lokal yang memaksa masuk dan bekerja diproyek tersebut. Sedangkan dia tau kalau Ilham senang dengan perempuan, sehingga adik perempuannya diperintahkan untuk sering datang dan mendekati PM kami. Masih dengan praktek-praktek kotor seperti ini. Gadis itu adalah seorang teller disalah satu bank swasta dan berparas ayu. Sehingga, ilham sudah tidak bisa menolaknya. Tapi, semenjak kakaknya bekerja diproyek ini, ia selalu membuat masalah dan pekerjaan selalu molor. Hal itulah yang mendorong Ilham untuk memberhentikannya dan menggantinya dengan supervisor baru, ialah aku.
Hari demi hari, bulan demi bulan terlampaui. Namun, proyek tak kunjung selesai seperti apa yang ada diplan. Itu karena medan proyek yang sulit dan berada didaerah pesisir. Banyak bebatuan super keras yang tidak mempan didrill menggunakan mesin drill, sehingga harus menggunakan tim gali manual yang kami datangkan dari daerah garut. Target proyek adalah 3 bulan hingga tembus ke garda induk Suralaya. Namun, fakta dilapangan kita tidak bisa menyelesaikannya meskipun sudah 8 bulan kita bekerja. Project manager senior datang kelokasi kerja pada waktu itu. Dia benar-benar marah dan sempat akan menggampar kami semua. Namun, setelah kami mencoba menjelaskan dan melihat langsung kelokasi kerja, ia baru sadar kalau medan tersebut memang mustahil bisa kami selesaikan hanya dengan waktu 3 bulan.
Akhirnya setelah kita melakukan rapat dadakan, kita memutuskan untuk mendatangkan excavator tambahan dan juga breaker untuk menggali manual antara join pit ke join pit lainnya yang berjarak 90m. Tim piloting dimandori oleh Patra, ia adalah seorang operator boring HDD kawakan yang telah lebih dari 10 tahun berkecimpung dibidang tersebut. Mandor cor dikepalai oleh Tedy, Las HDPE oleh Yasri, dan total dari semua pekerja yang ada berjumlah 37 orang. Aku sendiri memantau pekerja galian manual dan bagian maintenance join pit serta las HDPE, sedangkan jimin berada dibagian boring. Sesekali ilham memerintahkanku untuk bertukar posisi dengan Jimin untuk mempelajari dan paham semua pekerjaan dibidang tersebut.
Keesokan harinya, kami mulai bekerja dengan giat. Memaksimalkan kinerja excavator dan breaker, serta mendatangkan sopir dump truck senior dari perusahaan langsung. Sedangkan disisi lain Patra terus menggenjot mesin drilling setelah kami mengambil beberapa drill head baru dari perusaan. Piloting, reaming, drilling, digging, tracking, dan joining adalah pekerjaan yang mengisi setiap hari-hari kami. Terus mempelajari pekerjaan secara langsung dilapangan.
Usaha keras kami membuahkan hasil pada pertengahan bulan kesembilan, proyek tinggal menyisakan 1 join pit lagi yang mengarah langsung kegarda induk Suralaya. Dimana GI Suralaya adalah penyuplai pasokan listrik keJakarta. Ada banyak prosedur tambahan yang harus kami patuhi, karena perusahaan owner pemberi proyek semakin gencar mengirimkan konsultan untuk mengawasi kinerja kami dengan standar keselamatan yang tinggi. Hingga pada akhir bulan yang ke-9, kami berhasil menyelesaikan proyek tersebut meskipun harus menghabiskan waktu 3 kali lebih lama dari apa yang adda di rencana.
Sedikit tentang sistem kerja dilapangan yang bisa saya ceritakan dan banyak tambahan ilmu serta pengalaman yang saya dapatkan. Kalau kita bicara gaji memanglah tidak begitu besar. Gaji yang saya terima adalah standar UMR DKI Jakarta. Namun, bukan pekerja proyek tentunya kalau tidak bermain didalamnya. Dari situlah kita mendapatkan tambahan pendapatan. Dari sanalah aku mengetahui bahwa pekerja konstruksi selain kuat, mereka adalah pribadi yang mau berpikir.
Proyek pertamaku bersama rekan-rekan berhasil kita selesaikan dengan baik, ya meskipun tidak sesuai deadline. Tetapi, kesalahan awalnya adalah dari surveyor yang melakukan pengecekaan medan kerja. Mereka tidak akurat sehingga kamilah yang harus bekerja ekstra keras setelahnya. Baiklah, kita pulang kerumah masing-masing.
Seminggu diberi cuti oleh atasan, kami harus berangkat lagi ke Maluku untuk mengerjakan leveling lahan dan pengaspalan. Aku dan Ilham berangkat menuju proyek baru di Maluku, sedangkan Patra melanjutkan Drilling dan Jerking di Cilegon. Hampir dua tahun aku bekerja untuk perusahaan tersebut hingga waktunya tiba aku memutuskan untuk menikah. Istriku tidak mau aku tinggal dan memintaku untuk tetap tinggal dirumah.
Setelah menikah, dan tidak bekerja lagi aku mendapatkan kesulitan finansial. Karena semenjak menikah, saat itu juga ayahku berpesan untuk bertanggungjawab sepenuhnya dan beliau tidak akan membantuku lagi dalam hal finansial. Sehingga aku mememutuskan untuk membuka usaha kecil seperti berjualan makanan. Namun, berwirausaha jauh lebih susah dibandingkan bekerja. Karena kita harus menyesuikan selera pasar, lokasi, dan pengelolaan modal. Setiap usaha yang aku lakukan pasti menemui kegagalan. Sehingga aku memutuskan untuk bekerja kembali dengan kakak sepupuku. Dia baru saja membuka pabrik kayu lapis, setelah menjual bensaw kayu dan beberapa aset lain yang dia punya untuk membeli pabrik tersebut.Hanya kurang dari satu tahun pabrik tersebut mengalami kebangkrutan dan memaksa kakak sepupuku menjual pabriknya kepada pemilik baru dengan meninggalkan hutang yang besar.
Setelah pabrik dijual kepemilik baru, aku tidak lagi bekerja disana sehingga dalam diam aku kembali memikirkan untuk membuka usaha baru. Hingga berhari-hari tak kunjung jua menemukan inspirasi usaha yang tepat. Kebetulan waktu itu sedang musim durian didaerah tempat tinggalku. Jadi aku putuskan untuk ikut kakakku berjualan durian kedaerah Rembang, Jatim, dan terakhir Semarang. Lumayan menghasilkan meskipun hanya usaha kecil, tiap 3 hari sekali kita menyuplai 1 colt durian keSemarang. Namun naas, kembali usahaku dilanda kegagalan karena suplayer lain menyetok barang dari sumatera hingga bertruk-truk banyaknya. Dan itulah yang membunuh penjualan durianku.
Tak lantas putus asa, aku kembali memutar otak untuk membuka usaha baru. Kebetulan waktu itu aku sedang hobi memelihara beberapa hewan karena aku tidak bekerja lagi. Seperti ikan hias dan kelinci hias. Dari sanalah inspirasi untuk membuka usaha baru muncul. Aku memutuskan untuk membuat peternakan kelinci hias dan kambing Etawa. Pada daaat itu kondisi keuangan sedang tidak baik-baik saja dan hal itu menjadikan alasan untuk meminjam dana daring bank. Tentunya dengan sisa uang yang aku punya juga.
Aku memulai usaha tersebut karena berdasar rasa sayang pada hewan dan juga cukup menjanjikan juga hasilnya. Awalnya aku mengambil bibit dari beberapa breeder besar didunia peternakan kelinci. Aku mengembangkan beberapa ras kelinci hias. Namun, ketertarikanku jatuh pada dua ras terbesar kelinci, yaitu, flemish giant dan germany giant atau beberapa breeder dari United Kingdom menyebutnya Continental giant. Dua ras tersebut adalah ras terbesar kelinci yang sama-sama berasal dari daratan Eropa, bedanya Germany giant dikembangkan diEropa, sedangkan Flemish giant dikembangkan serta dikenalkan di Amerika. Selain dari seluk beluk dan asalnya, dua kelinci tersebut memiliki perbedaan yang signifikan (bagi para peternak kelinci ras ini) Namun, sulit untuk orang awam mengenali ciri-ciri tersebut.
Aku memiliki dua kandang seukuran rumah untuk mmembudidayakan kelinci tersebut. Selain itu, aku juga memiliki peternakan kecil kambing etawa. Kebetulan pamanku adalah ketua HPKSI (Himpunan Peternak Kambing Seni Indonesia) jadi, aku sering belajar tentang kambing etawa kepada pamanku itu. Salah satu maskot kandangnya adalah Pajera, keturunan langsung dari Birawa sang pemegang juara 1 nasional kelas A sebelum dikalahkan oleh mister Bejo, kambing termahal seharga 1 milyar rupiah dari Jawa timur yang memenangkan piala presiden atau setara juara 1 kelas A nasional.
Kembali lagi kebreeding kelinci hias, ketertarikanku dengan usaha dan budidaya kelinci akhirnya mengenalkan aku pada banyak peternak yang sependapat. Beberapa kali melakukan kontes untuk menentukan kekurangan apa yang harus dibenahi pada bentuk fisik dan kualitas kelinci. Dilain sisi juga mencari penghargaan bagi kelinci yang tergolong baik. Bahkan beberapa kali mendatangkan juri dari ARBA (American Rabbit Breeder Association) untuk memberikan penjurian secara langsung. Itulah awal mula saya mengenal beberapa peternak ternama di Amerika dan Eropa. Sehingga pada suatu ketika aku dan beberapa teman yang terobsesi mencari bibit kelinci Germany Giant dan Flemish Giant kelas dunia, memutuskan untuk datang pada komtes kelinci di Oklahoma untuk mengadopsi beberapa bibit unggul kelinci Flemish giant Amerika secara langsung tanpa perantara importir hewan.
Dua kali aku mengadopsi langsung kebreeder terkemuka diluar negeri, Amerika untuk Flemish giant dan Slovakia untuk Germany giant. Kebanyakan orang tidak percaya bahwa kelinci-kelinciku adalah keturunan impor dari Amerika dan Eropa. Setelah adanya beberapa pembeli dari Malaysia, Brunei, dan Philipina datang untuk mengadopsinya, barulah orang-orang percaya. Bahkan tak jarang aku sendiri yang menghandle pengirimannya keluar negeri.
Dari banyak hal aku mengenal banyak orang luar negeri, berinteraksi dan memahami karakteristik mereka. Sebenarnya saya sudah mengenal karakteristik orang barat semenjak masa-masa kuliah. Karena hobi outdoorkulah yang membawanya kesana. Mountaineering, climbing, hiking, olahraga arus deras dan juga trail running serta banyak lagi lainnya. Dari sini juga akan aku ceritakan tentang hubungan spesialku dengan salah satu gadis asal Jerman, salah satu mahasiswa doube degree disalah satu Institut seni di Jawa tengah. Dialah...[to be continue] H2S



0 komentar:
Post a Comment